Entry: marriage and nationality orgasm 5.5.07



Marriage ? Pernikahan ? Mungkin udah bosen abis aku dengerin kata yg satu ini deh. Gimana nggak coba ? Dalam seminggu terakhir ini udah ada empat kali yang nawarin nikah. Mana dari rumah, orang tua juga udah nyuruh cepet˛ nikah lagi. Blom lagi sms dari si ikhwan .... sialan koen wan ... (anyway, selamat yo, wis lahir Ichwan jr, M. AGHA ZULFADHLI).

Gak tahu gimana yah, hari Jumat kemaren aku ngajak si irfan maen ke tempat Arifin yg sekarang udah ‘uzlah (hehe, ngapunten pin, abisnya omah-e uadoh poll, wis jalane sepi, sawah thok, plus kesasar pisan). Lah, kok yo pulang-pulangnya dari Arifin, si Irfan kok pikiran-e sik nyantol di rumahnya si Ipin, mergone ...... <<censored>>

Katanya sih, nikah itu lebih banyak enaknya daripada nggaknya. Padahal kan orang nikah itu kan seperti bersatunya dua orang yang jelas-jelas berbeda. Yang satu laki-laki, yang satu wanita. Belum lagi sifat, kondisi keluarga, sosial ekonomi, dst ... dst. Tapi kok ya bisa akur ? Malah bisa lebur dalam artian yang sebenarnya. Mungkin karena itu Allah menghalalkan jima’ (hubungan seks) antara suami istri, yang katanya gak enak, tapi uenakk (iki jarene lho ya). Bahkan kata Shamsuddin Tabriz, orgasme seks ini bisa mengantarkanmu membaui wewangian surga dan mendzikirkan Allah. Bagaimana tidak ? Bukankah dalam proses pencapaian orgasme ini adalah hampir semuanya “kerjaan” Allah ? Manusia disini (sang suami dan istri) hampir-hampir tidak memiliki saham. Yang menciptakan semua physical maintenance untuk itu adalah Allah, manusia tinggal terima jadi. Yang memasukkan pengetahuan tentang jima’ ini juga naluri alamiah yang diinstall Allah sejak zaman azali. Yang memasukkan plug-ins non-physical maintenance-nya juga Allah (untung kita dikasih piranti ruhani yang bisa merasakan orgasme ini). Udah gitu, jika jima’ (antar suami istri) ini dilakukan dengan ikhlas, Allah sudah menyiapkan benih generasi yang avant garde, garda depan. Lah, kalo udah gini, kurang apa Allah ? Bukannya kita aja yang sebegitu teganya “mengeluarkan” Allah dari kamar pengantin di malam pertama? Wedi diintip paling yo. Belum lagi, pernikahan juga menjadikan ’hidup lebih hidup’. Keberadaan pendamping setia membagi cerita, membagi suka duka, membagi hari-hari.

(Nah lo, tanggung jawab koen fan, salahe ngajak aku nanggone Arifin ... dadi ngomongku nglindur gak karuan)

 

Eh, kalo semua itu bener, itu semata-mata dari Allah. Kalo salah, yo maklum ae, lha wong aku blom pernah nikah kok .....

 

Cuma, ada satu hal yang aku herankan. Kan tadi udah dibilang kalo nikah itu bersatunya dua unsur yang jelas-jelas berbeda, tapi kok yo bisa match, bisa klop, dan bisa akur ? Dimana ya rahasianya ? (mbok ya bagi yg udah nikah, tolong aku di-share), soale terus terang aku masih nyari jawaban ini.

Bicara lagi soal nikah, kalo memang sebanyak itu daftar enak-nya pernikahan, maka terus terang, jiwaku ereksi menginginkan pernikahan antar komponen bangsa. Pernikahan antara penguasa dengan rakyatnya. Pernikahan antara buruh dengan majikannya, antara dosen dengan mahasiswanya, antar tetangga, antar pemeluk agama, antar suku, dan antar kepentingan. SubhanaLlah jika hal ini memang benar-benar terjadi di negeri seribu mimpi ini. Aku dengan sangat bangga akan mengadakan pesta besar-besaran, mabuk dan hanyut dalam kegembiraan tiada tara. Aku ikhlas untuk ‘hilang’ merayakan malam pertama pernikahan kebangsaan ini. Kunanti-nantikan dengan segenap harap dan cemas orgasme kebangsaan dari hasil persetubuhan ini, dimana dua mempelai ‘hilang diri’, larut dalam sebuah kegembiraan bersama.

 

Indahnya semua ini. Dua mempelai tidak saling memaksa untuk menjadi ini atau menjadi itu, melainkan dengan sadar diri saling menerima perbedaan itu. Yang penguasa tidak lantas menindas rakyat, dan rakyat tidak terus-terusan menyalahkan penguasanya. Begitu pula dengan buruh dan majikannya, dan antar komponen bangsa yang lain. Layaknya pasangan pengantin baru, yang ada hanya keindahan.

 

Bukankah selama ini kita sudah mengeluarkan ongkos yang begitu besar demi sebuah kerinduan, kerinduan akan pernikahan kebangsaan ini ? Ongkos material yang tak terhitung banyaknya, ongkos non material yang tak terkirakan luka dan perihnya. Letih jiwa lelah raga sudah kita alami bersama. Bukankah energi ini harusnya kita eman-eman untuk malam pertama kebangsaan nanti ?

 

Kalau pernikahan antar dua anak manusia saja menghasilkan begitu banyak manfaat dan ke-enak-an yang subhanaLlah, maka tak terbayangkan-lah manfaat pernikahan kebangsaan ini, dan ke-enak-an yang bisa dirasakan pun pastilah maha subhanaLlah ....

 

subhanaLlah ...

   0 comments

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments