|
Ada seorang pemuda berusia sekitar 20 tahun. Dengan tas ransel
masih di punggung, sambil di tangannya yg sebelah kanan memegang hamburger
sebagai makan siang, sementara tangan yang satunya sibuk diatas tuts keyboard
laptopnya. Ia sedang mengerjakan laporan praktikum laboratoriumnya di sebuah
cafe. Sementara jauh disana, seorang pemuda dengan usia yang sama,
dengan tas ransel yang juga masih di punggungnya, bergulat dengan peluh, dengan
map lusuh di tangan kanannya, sedang tangan kirinya terjuntai begitu saja. Ia
masih saja sibuk mengurus perijinan untuk praktikum laboratoriumnya. Entah
masih berapa tanda tangan lagi yang harus ia kumpulkan untuk menikmati barang
mewah bernama laboratorium. Walau sedikit hiperbolik, itu adalah gambaran dua kutub dunia
kemahasiswaan. Yang satu aku dapat di Jerman, dan yang satu lagi di sebuah
negara mimpi bernama Indonesia Raya. * Tapi, ada satu hal yang sama diantara mereka, yakni berada di dunia
yang sama, dunia kemahasiswaan. Adapun mengenai dua wajah yang berbeda,
insyaAllah lain kali saja aku ceritakan. Dunia Kemahasiswaan. Apakah itu ? Apakaha ia sebuah dunia dimensi
lain seperti halnya yang digambarkan di kotak ajaib bernama televisi ? Dunia kemahasiswaan, banyak (bahkan mungkin terlalu banyak) orang
mendeskripsikannya. Maha dan Siswa, dua kata yang menjadikan dunia ini
berdimensi lain. Atau ada juga yang mengagung-agungkan dunia kemahasiswaan
sebagai dunia tempat berkumpulnya para akademisi. Dan apa pula akademisi itu ?
Masih terlalu banyak hal yang perlu diperdebatkan. Dunia kemahasiswaan sebenarnya tak jauh beda dengan dunia yang
lain, seperti dunia tukang, dunia buruh bahkan dunia pelacur sekalipun. Yang
mungkin membedakan adalah adanya sebuah rasa fanatisme yang menganggap
kita lebih dari yang lain. Banggakah kita , kalau ada sebagian teman kita yang
mengatasnamakan mahasiswa mengangkat spanduk “Turunkan SBY”, sedangkan para
buruh bisa juga demo untuk hal yang lebih riil. Ataukah kita merasa bangga
karena kita merupakan bagian dari sekumpulan orang (tidak sampai 10% lulusan
SMU) yang bisa melanjutkan pendidikan lagi ? * Baru baru ini sebuah film cukup sukses di pasaran, berjudul Gie
yang dibintangi Nicholas Saputra. Soe Hok Gie, yang mati di pangkuan Mahameru,
sekarang bisa bangga pada dirinya. Ia bukan anak manis yang menenggelamkan diri
pada puisi, menghambur-hamburkan rangkaian kata manis, padahal ia di jurusan
sastra. Kekuatannya untuk memilih tidak di kiri dan kanan, menyebabkan keterasingan
baginya. Bahkan ia merasa makin tidak cocok dengan sistem pendidikan yang [ia
rasa] menindas akal sehat dan hanya akan melahirkan generasi beo. Bukankah ia
sendiri yang lebih memilih keterasingan daripada menyerah pada kemunafikan ? Sebuah sosok yang juga pantas disandingkan dengan Gie adalah Ahmad
Wahib. Ahmad Wahib telah memainkan peran mahasiswa dengan pola pemikiran yang
maju, yang kejujuran dan komitmennya kepada kebenaran sungguh mempesona hati.
Tawaran pemikirannya yang mendobrak sekat-sekat feodal atas nama agama, harus
dibayarnya dengan keluar dari HMI, yang pada saat itu menjadi tangga sukses
menuju kursi menteri. Ia terus merekonstruksi pemikirannya tentang Islam. Dan entah bagaimana, kedua orang diatas memiliki kesamaan yang
menakjubkan. Sama-sama lahir tahun 1942, sama-sama mahasiswa, sama-sama pecinta
kebenaran, sama-sama pemikir, sama-sama suka menulis catatan harian (Gie dengan
Catatan Harian Seorang Demonstran dan Wahib dengan Pergolakan Pemikiran Islam)
dan sama-sama mati muda. Wahib mati oleh tabrak lari di Jakarta, sedang Gie
menyerahkan nyawanya di Mahameru. Yang berbeda hanya tempat kelahirannya, Gie
di Jakarta dan Wahib di Sampang. Emha Ainun Nadjib. Ia (mungkin sudah bosan) dikeluarkan dari
sekolah. Saat SD, ia dikeluarkan dari sekolah karena ‘menghukum’ gurunya yg
datang terlambat. Saat SMP di Ponpes Gontor, ia ‘mengundurkan diri’ dari pondok
karena ‘mempertanyakan’ hak istimewa senior-seniornya. Bagi banyak orang, orang-orang macam ini adalah orang-orang
pemberontak. Tapi mereka bertiga tetap tegar dengan sikapnya. Bagi mereka,
keadilan dan kebenaran adalah kata kunci. Dua hal ini menjadi titik pusat nilai
dalam aktualisasi peran sosialnya. Atas nama keadilan, mereka merasa wajib
menggedor-gedor langit birokrasi. Atas nama kebenaran, mereka meneropong sistem
dan struktur sosial yang menganiaya manusia dan kemanusiaan, kekuasaan yang
korup dan menindas, kemapanan yang melahirkan dekadensi, dsb. Bukankah Muhammad Sang Nabi, mendobrak kemapanan jahiliyah yang
melahirkan dekadensi di segala sisi ?? * Secara singkat, apa sih kelebihan mereka ? Tidak lain karena
mereka punya SIKAP. Mereka punya batasan nilai yang diyakininya dengan kuat
hingga saat ini. Jeruji besi tidak cukup kuat memecahkan keyakinan tersebut. Dalam dunia kemahasiswaan, cukup beranikah kita berteriak,
mengkritik segala hal yang tidak mapan? Jeruji-jeruji ancaman ketidaklulusan
sering kali mematikan keberanian kita. Seringkali, kita memilih untuk bersikap
sebagai bunglon, untuk cari selamat. Kita sering kali terlalu cepat memvonis diri bahwa kita tidak
mampu. Padahal sebenarnya kita dapat mengatasi perasaan ketidakmampuan itu.
Sering kali kita merasa sebagai seorang yang diombang-ambingkan kebingungan
padahal sesungguhnya sanggup berdiri tegak, seorang yang merasa bahwa ia hanya
buih yang terhanyut padahal sebagai manusia ia adalah pengendali gelombang,
seorang yang malas dan pengecut. Padahal sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang paling tinggi, ia mampu
mengendalikan apa saja, apalagi sekadar gejala picisan dalam jiwa seperti
marah, takut, bingung, dsb. * SIKAP, adalah kata kuncinya. Bersikap sedikit nakal, tidaklah
selalu identik bahwa kita adalah okem-okem pasar yang bertindak semaunya. Orang-orang
besar macam Soekarno, Hitler, Mussolini, Benny Murdani, Rendra, saat kecil
bukanlah anak-anak yang manis dan penurut. Teroris-teroris besar kelas kakap
dunia, juga bukanlah berasal dari okem-okem pasar dan kampung yang tidak punya
latar belakang kehidupan yang jelas. Carlos anak milyuner dari Venezuela.
Netchayev adalah seorang mahasiswa di saat di Rusia baru ada 1000 mahasiswa.
Juga Bakunin dan Ulianinov, kakak Lenin. George Habash dan Widi Hadad adalah
dokter yang pernah buka klinik sendiri. Tanpa hidup nyleneh sebagai teroris,
mereka pasti bisa hidup mapan, tentram dan damai. Tapi mereka punya pilihan
lain. Mereka punya sikap lain yang sangat mereka yakini kebenarannya. Dan
mereka pun bisa menjadi orang besar, karena konsisten dengan sikapnya. Bagaimana dengan kita sendiri. Haruskah kita bangga dengan predikat kita sebagai mahasiswa ? Ya, kita harus bangga. Tapi bukan karena kita menjadi mahasiswa.
Kita boleh bangga, kalau kita punya sikap. Urusan belakangan kalau ternyata
sikap kita itu sebanarnya salah. Saat kita bersikap, di sanalah tampak
kedewasaan kita, kebesaran kita. Dan saat itulah barulah kita boleh bangga,
bahwa kita adalah mahasiswa. Kebanggaan inilah yang harus kita cari, harus kita
buat sendiri. Jangan lagi karena kebetulan status kita adalah mahasiswa. Be your self with your own mind! Malang, 06.08.05, abis “nyalain kompor” di
HMS Referensi : Valens Riyadi, Dunia Kemahasiswaan, Sebuah Fanatisme Romantis (milis
C96) Andrias Harefa, Soe Hok Gie: Prototipe Manusia Guru Soe Hok Gie, Catatan Harian Seorang Demonstran Ahmad Wahib, Pergolakan Pemikiran Islam |
| yourshop.cc December 4, 2008 03:44 PM PST http://www.watchesforsale.us | ||
| Leave a Comment: |