|
Ana sahabatku, setelah sekian lama om Ivan Illich menelurkan ide
nylenehnya tentang "buat apa sekolah", mungkin baru sekarang, di
negeri ini, telur om Ivan ini menetas. Belum tuntas riuh rendah tingginya angka
ketidaklulusan UAN, datang lagi gemuruh Penerimaan Siswa Baru. Barangkali om
Ivan perlu lah datang ke negeri ini, sekedar berterima kasih karena mungkin
baru di negeri ini hipotesis dia menemukan bentuk nyata. Engkau mau bukti, Ana ? Ah, gak perlu yah, kan sekarang bukan
jamannya lagi ngasih bukti. Lagian, apa engkau sudah sedemikian gak percayanya
sama aku ? Apakah kepercayaan juga semakin langka adanya, setelah BBM dan hutan
kita juga langka ? .... Engkau masih maksa juga minta bukti ? Ah, Ana ... kalo
engkau memaksa juga, aku maklum. Bukankah maksa sekarang ini lagi ngetrend ?
Pilkada, tuntutan kenaikan gaji, tuntutan kenaikan tunjangan, demo sana demo
sini, bukankah maksa juga namanya ? Oke lah Ana, kalo engkau mau bukti, aku ajak engkau jalan-jalan
(semakin lama diem disini, makin sakauw aku). Kita akan kemana ? Ya tentu saja
keliling sekolah-sekolah itu, tapi bukan untuk sidak dana kompensasi BBM yang
dikasih label Biaya Operasional Sekolah itu, kan kita bukan siapa-siapa,
apalagi wakil rakyat. Rakyat masih cukup waras untuk tidak memilih kita menjadi
wakilnya. Kita keliling untuk ngeliat gegap gempitanya Penerimaan Siswa Baru.
Eits, tapi jangan lupa bawa uang receh yah. Ntar pasti kepake ..... Tuh, ada sekolah di sebelah sana. Liat aja antriannya .... Gak perlu engkau
ikut antri, Ana. Mendekatlah ke spanduk penerimaan siswa baru itu aja.
Kemudian, ambil duit receh tadi dan gosok spanduk itu, kayak engkau biasa
menggosok voucher isi ulang pulsa HP itu lho. Kalo udah, kita keliling lagi. Bagaimana Ana ? Jangan pasang muka kaget begitu dong. Di negeri ini sudah
hampir semuanya tidak masuk akal, jadi apa yang engkau lihat dan saksikan, gak
usah dimasukin akal, eman-eman akalmu. Coba sekarang engkau bacain tulisan di
spanduk setelah engkau gosok pake duit receh tadi.
BAPAK IBU MELARAT, JANGAN KIRIM ANAK-ANAKMU PERGI KULIAH, KARENA
KALIAN BUKAN KONSUMEN PRIVATISASI UNIVERSITAS. MASYARAKAT FAKIR PAPA POSISINYA TIDAK RELEVAN DENGAN DUNIA
PENDIDIKAN SEKOLAH BUKAN RUMAH SOSIAL DAN UNIVERSITAS BUKAN TONG SAMPAH SEKOLAH ADALAH MALL-MALL DAN UNIVERSITAS ADALAH SUPERMARKET (Emha Ainun Nadjib, Kesaksian Orang Biasa, 15 Oktober 2004) Bukan apa-apa Ana, ini kan juga demi kebaikan orang-orang miskin
juga. Sekali mereka merasakan sekolah, mereka akan kecanduan hebat dan semakin
susah melepaskan diri dari sekolah. Baru ngerasain taman bermain, minta tambah
lagi dengan TK, minta lagi nyicipin SD, terus SMP, SMA dan buntut-buntutnya
jadi kuli ah. Inipun juga masih blom selesai lho. Abis SMA, ada S1, S2 dan
lain-lain. Sayang es campur adanya cuma di tempat makan, gak di dunia
pendidikan. Dan harga semua itu gak bakalan bisa dijangkau oleh mereka itu lho
Ana, bahkan untuk bermimpi tentang harga itu, aku yakin mereka fakir papa juga
ketakutan setengah mati. Bukankah gelar akademis juga komoditas perdagangan
yang menggiurkan labanya ? Bukankah banyak yang rela membayar berapapun juga
demi toga dan secarik kertas di etalase plaza dan mall-mall itu Ana ? Ah, gak
usah ditanggepin Ana, aku aja yang terlalu skeptis. Maklum sih, aku juga
sedikit nyandu sekolah ..... Dan sakauw akibat kecanduan sekolah ini gak maen-maen lho. Sudah
jatuh korban di negeri ini. Di tengah belitan busung lapar, flu burung, polio,
lumpuh layu, sejarah juga menyempatkan diri mencatat nama-nama korban
sakauw-nya sekolah. Sebutlah misalnya Eko Haryanto, seorang siswa SD di Tegal
yang gantung diri. Ada lagi Bunyamin, seorang siswa SMK. Haryanto seorang siswa
SD di Garut. Sembodo di Kebumen dan yang terakhir seorang gadis bernama Fifi
Kusrini, seorang siswa SMP. Bukankah ini juga kado yang manis buat pemerintah
di saat ada acara Hari Anak Nasional kemarin yah ? Kenapa Ana ? Engkau bilang sekolah itu juga anjuran agama ? Baiklah Ana sahabatku, soal ini aku ajak engkau membuka buku
harian milik seorang sahabat, Soe Hok Gie namanya. Kita lihat saat ia berdebat
dengan pendetanya. Suatu saat pendetanya ini mengemukakan ide untuk membuat
sebuah sekolah unggulan dengan harga yang diatas rata-rata pada saat itu. Jelas
saja Gie mendebatnya dan mengatakan bahwa dengan ini akan menciptakan stigma
bahwa akan ada sekolah untuk orang kaya dan orang miskin. Setelah si pendeta ini tidak menemukan argumen lagi, ia mengatakan
bahwa Gie anti agama. Dan kau tahu apa yang dikatakan Gie, Ana ? Gie cuma
berkata bahwa kalo usahanya memperjuangkan hak yang sama bagi setiap orang
untuk mendapatkan pendidikan harus membuatnya disebut anti agama, maka aku
(Gie) memang anti agama. ( Banyuwangi - Bondowoso - Malang ; lagi-lagi nggerundel ) |
| Leave a Comment: |