Entry: Sekolah itu (candu) 5.3.07



Ana sahabatku, setelah sekian lama om Ivan Illich menelurkan ide nylenehnya tentang "buat apa sekolah", mungkin baru sekarang, di negeri ini, telur om Ivan ini menetas. Belum tuntas riuh rendah tingginya angka ketidaklulusan UAN, datang lagi gemuruh Penerimaan Siswa Baru. Barangkali om Ivan perlu lah datang ke negeri ini, sekedar berterima kasih karena mungkin baru di negeri ini hipotesis dia menemukan bentuk nyata.

Pak De SBY beberapa saat lalu juga bagi-bagi sms akan bahayanya Narkoba dan zat aditif lainnya. Mungkin yang perlu dipertegas dan diperdebatkan adalah apa saja sih yang masuk dalam zat aditif ini. Kalau saja om Ivan sekarang ada di sini, Ana, mungkin saja ia akan menambahkan lagi dalam golongan zat aditif ini sebuah barang baru, SEKOLAH namanya. Sudah saatnya disadarkan pula kalo yang namanya sekolah ini juga bisa bikin nyandu, ketagihan, yang sakauwnya bisa lebih bahaya dari narkoba. Eh, bukan cuma sakauw-nya lho, harganya juga bersaing dengan paket SS dan ganja di luaran sana.

Engkau mau bukti, Ana ? Ah, gak perlu yah, kan sekarang bukan jamannya lagi ngasih bukti. Lagian, apa engkau sudah sedemikian gak percayanya sama aku ? Apakah kepercayaan juga semakin langka adanya, setelah BBM dan hutan kita juga langka ? .... Engkau masih maksa juga minta bukti ? Ah, Ana ... kalo engkau memaksa juga, aku maklum. Bukankah maksa sekarang ini lagi ngetrend ? Pilkada, tuntutan kenaikan gaji, tuntutan kenaikan tunjangan, demo sana demo sini, bukankah maksa juga namanya ?

Oke lah Ana, kalo engkau mau bukti, aku ajak engkau jalan-jalan (semakin lama diem disini, makin sakauw aku). Kita akan kemana ? Ya tentu saja keliling sekolah-sekolah itu, tapi bukan untuk sidak dana kompensasi BBM yang dikasih label Biaya Operasional Sekolah itu, kan kita bukan siapa-siapa, apalagi wakil rakyat. Rakyat masih cukup waras untuk tidak memilih kita menjadi wakilnya. Kita keliling untuk ngeliat gegap gempitanya Penerimaan Siswa Baru. Eits, tapi jangan lupa bawa uang receh yah. Ntar pasti kepake .....

Tuh, ada sekolah di sebelah sana. Liat aja antriannya .... Gak perlu engkau ikut antri, Ana. Mendekatlah ke spanduk penerimaan siswa baru itu aja. Kemudian, ambil duit receh tadi dan gosok spanduk itu, kayak engkau biasa menggosok voucher isi ulang pulsa HP itu lho. Kalo udah, kita keliling lagi.

Bagaimana Ana ? Jangan pasang muka kaget begitu dong. Di negeri ini sudah hampir semuanya tidak masuk akal, jadi apa yang engkau lihat dan saksikan, gak usah dimasukin akal, eman-eman akalmu. Coba sekarang engkau bacain tulisan di spanduk setelah engkau gosok pake duit receh tadi.


.PENGUMUMAN.


USAHAKAN JANGAN SAMPAI ANAK-ANAK MISKIN MASUK SEKOLAH, KARENA KEMISKINAN TIDAK ADA KAITANNYA DENGAN SEKOLAH, DAN ANAK-ANAK MISKIN BUKAN KONSUMEN YANG SIGNIFIKAN BAGI SEKOLAH.

BAPAK IBU MELARAT, JANGAN KIRIM ANAK-ANAKMU PERGI KULIAH, KARENA KALIAN BUKAN KONSUMEN PRIVATISASI UNIVERSITAS.

MASYARAKAT FAKIR PAPA POSISINYA TIDAK RELEVAN DENGAN DUNIA PENDIDIKAN

SEKOLAH BUKAN RUMAH SOSIAL DAN UNIVERSITAS BUKAN TONG SAMPAH

SEKOLAH ADALAH MALL-MALL DAN UNIVERSITAS ADALAH SUPERMARKET

(Emha Ainun Nadjib, Kesaksian Orang Biasa, 15 Oktober 2004)

Bukan apa-apa Ana, ini kan juga demi kebaikan orang-orang miskin juga. Sekali mereka merasakan sekolah, mereka akan kecanduan hebat dan semakin susah melepaskan diri dari sekolah. Baru ngerasain taman bermain, minta tambah lagi dengan TK, minta lagi nyicipin SD, terus SMP, SMA dan buntut-buntutnya jadi kuli ah. Inipun juga masih blom selesai lho. Abis SMA, ada S1, S2 dan lain-lain. Sayang es campur adanya cuma di tempat makan, gak di dunia pendidikan.

Dan harga semua itu gak bakalan bisa dijangkau oleh mereka itu lho Ana, bahkan untuk bermimpi tentang harga itu, aku yakin mereka fakir papa juga ketakutan setengah mati. Bukankah gelar akademis juga komoditas perdagangan yang menggiurkan labanya ? Bukankah banyak yang rela membayar berapapun juga demi toga dan secarik kertas di etalase plaza dan mall-mall itu Ana ? Ah, gak usah ditanggepin Ana, aku aja yang terlalu skeptis. Maklum sih, aku juga sedikit nyandu sekolah .....

Dan sakauw akibat kecanduan sekolah ini gak maen-maen lho. Sudah jatuh korban di negeri ini. Di tengah belitan busung lapar, flu burung, polio, lumpuh layu, sejarah juga menyempatkan diri mencatat nama-nama korban sakauw-nya sekolah. Sebutlah misalnya Eko Haryanto, seorang siswa SD di Tegal yang gantung diri. Ada lagi Bunyamin, seorang siswa SMK. Haryanto seorang siswa SD di Garut. Sembodo di Kebumen dan yang terakhir seorang gadis bernama Fifi Kusrini, seorang siswa SMP. Bukankah ini juga kado yang manis buat pemerintah di saat ada acara Hari Anak Nasional kemarin yah ?

Kenapa Ana ? Engkau bilang sekolah itu juga anjuran agama ?

Baiklah Ana sahabatku, soal ini aku ajak engkau membuka buku harian milik seorang sahabat, Soe Hok Gie namanya. Kita lihat saat ia berdebat dengan pendetanya. Suatu saat pendetanya ini mengemukakan ide untuk membuat sebuah sekolah unggulan dengan harga yang diatas rata-rata pada saat itu. Jelas saja Gie mendebatnya dan mengatakan bahwa dengan ini akan menciptakan stigma bahwa akan ada sekolah untuk orang kaya dan orang miskin.

Setelah si pendeta ini tidak menemukan argumen lagi, ia mengatakan bahwa Gie anti agama. Dan kau tahu apa yang dikatakan Gie, Ana ? Gie cuma berkata bahwa kalo usahanya memperjuangkan hak yang sama bagi setiap orang untuk mendapatkan pendidikan harus membuatnya disebut anti agama, maka aku (Gie) memang anti agama. 

( Banyuwangi - Bondowoso - Malang ; lagi-lagi nggerundel )

   0 comments

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments