Entry: ... instant ... 5.3.07



kemarin ada temenku nulis cerita tentang mbah penjual mie instant di depan kampus, yang menyediakan waktu istirahatnya diganggu orkestra keroncongan perut mahasiswa yang kelaparan selepas tengah malam.

"mbah mie" dia menyebutnya

tinggal tunjuk mau merk mie yang mana, then ... sim salabim, jadilah semangkuk mie panas yang bisa meredakan orkestra keroncongan tadi.

instant ... langsung jadi ...

mie instant, kopi instant, teh instant, rakyat instant, mahasiswa instant, dosen instant, dekan instant, rektor instant, hingga presiden instant.

seperti halnya etalase kaca tempat memajang mie instant berbagai merk ... ada juga sebuah tempat yang tidak kalah menterengnya. desain interior dan eksteriornya dibuat sedemikian rupa untuk menarik perhatian. namanya PTN. Eits, anda jangan suuddhan dulu menyangka PTN adalah Perguruan Tinggi Negeri. PTN disini adalah Plaza Tinggi Negeri. Dalam etalase beningnya -seperti mie instant- dipajang berbagai produk instant berbagai merk dari SH sampai ST, dari SE sampai SP, berjajar bersama-sama STMJ dan SPG. tentunya dengan berbagai variasi harga dong, tergantung fasilitas yang ditawarkannya. kalau mau yang pake telor, beda dong sama yang pake bakso. semuanya sih tergantung selera dan kesepakatan.

jadi, siapa yang tidak memiliki kemampuan membuat kesepakatan, disarankan jangan dekat-dekat PTN, sebab aromanya bisa membuat orkestra keroncongan berbunyi lebih nyaring, disusul oleh yang namanya ngiler, kemudian tidak mampu menahan diri, lalu demo. demo masak maksudnya. nah, demo ini sangat tidak menunjang bagi keberadaan sebuah Plaza. demo bisa membuat nilai jual PTN tadi turun. jadi, segala kemungkinan dan peluang yang bisa membuat terjadinya demo harus diantisipasi sejak dini. inget lho, gak ada yang melarang demo, apalagi Indonesia kan negara demokrasi, yang sedikit-sedikit demonstrasi, lalu demolagi demolagi, sampai akhirnya aborsi.

kok jadi ke aborsi ? lha wong tadi ngomong soal instant ...

jadi, jangan heran kalo banyak orang-orang instant bertebaran di jalan-jalan, di mal-mal, di kampung-kampung, dan perkantoran. berhenti di halte, ada minuman instant untuk meredakan haus. berhenti di terminal, ada mie instant. terjebak dalam jaring birokrasi, jangan khawatir, banyak produk instant yang ditawarkan. bahkan setiap 5 tahun, banyak calon-calon pemimpin instant untuk menjadi presiden dan wakil rakyat instant.

kalo kopi instant, gak perlu repot-repot nyari bubuk kopi dan menakarnya dengan takaran yang sesuai. tinggal terima jadi, dan syaratnya anda harus percaya kepada pabrik yang bikin kopi instant tadi bahwa takaran kopi dan gulanya sudah benar-benar yang paling pas buat anda. jadi, anda gak boleh pake otak anda untuk berfikir mengenai takaran dan dosisnya. pokoknya, anda harus percaya. kalo misalnya nanti setelah kopi habis, perut anda mules, itu urusan dokter dan rumah sakit instant untuk menanganinya.

kalo presiden instant atau wakil rakyat, gak perlu repot-repot anda mempertanyakan kapabilitas dan kredibilitasnya. anda cukup percaya saja dengan suara yang keluar dari speaker selama masa kampanye, atau anda percaya saja pada stiker-stiker yang nempel di tiang listrik, kaca bis, dan papan pengumuman. yang penting, anda gak boleh pake otak dan pake hati untuk memberikan penilaian terhadap kapabilitas dan kredibilitasnya. bukan apa-apa, ini demi kebaikan anda sendiri. sebab, kalo sampe otak dan hati anda anda pake untuk itu, jangan kaget dan terkencing-kencing kalo akhirnya anda terdampar di sebuah pulau bernama rumah sakit jiwa.

nah, masih ada sebuah produk instant yang cukup elit. ada ulama atau kiai instant. anda cukup percaya saja pada logatnya, pada pakaiannya, pada surbannya, ditambah ayat suci dan beberapa hadits, syukur-syukur bisa ndukun sedikit. gampang kan ?? anda gak perlu nginthil dia selama 24 jam untuk melihat sejauh mana akhlaqnya pada masyarakat, sejauh mana manfaat keberadaannya, atau kesediannya melekan menemani umatnya yang kebetulan sakit misalnya. bukan apa-apa, kalo anda lakukan demikian, anda sendiri yang bakalan repot.

memang bener-bener asik hidup di sebuah Republik Instant. sambil leyeh-leyeh merem melek, kita bisa lihat artis instant yang ngebor njengking sampai pejabat instant yang sedang ngobral dagangannya. tentunya sambil ditemani mie instant dan kopi instant, boleh sambil nyanyi lagu yang dinyanyikan Cak Nun selama di Korea yang berjudul “Asek” .... Asek..untum mawar meraaaahhh ..... oooo ...

coba, mana ada republik yang lebih asik ???

   0 comments

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments