Marriage ? Pernikahan ? Mungkin udah bosen abis aku dengerin kata
yg satu ini deh. Gimana nggak coba ? Dalam seminggu terakhir ini udah ada empat
kali yang nawarin nikah. Mana dari rumah, orang tua juga udah nyuruh cepet˛
nikah lagi. Blom lagi sms dari si ikhwan .... sialan koen wan ...
(anyway, selamat yo, wis lahir Ichwan jr, M. AGHA ZULFADHLI).
Gak tahu gimana yah, hari Jumat kemaren aku ngajak si irfan maen
ke tempat Arifin yg sekarang udah ‘uzlah (hehe, ngapunten pin, abisnya
omah-e uadoh poll, wis jalane sepi, sawah thok, plus kesasar pisan). Lah,
kok yo pulang-pulangnya dari Arifin, si Irfan kok pikiran-e sik nyantol di
rumahnya si Ipin, mergone ...... <<censored>>
Katanya sih, nikah itu lebih banyak enaknya daripada nggaknya.
Padahal kan orang nikah itu kan seperti bersatunya dua orang yang jelas-jelas
berbeda. Yang satu laki-laki, yang satu wanita. Belum lagi sifat, kondisi
keluarga, sosial ekonomi, dst ... dst. Tapi kok ya bisa akur ? Malah bisa lebur
dalam artian yang sebenarnya. Mungkin karena itu Allah menghalalkan jima’
(hubungan seks) antara suami istri, yang katanya gak enak, tapi uenakk (iki
jarene lho ya). Bahkan kata Shamsuddin Tabriz, orgasme seks ini bisa mengantarkanmu
membaui wewangian surga dan mendzikirkan Allah. Bagaimana tidak ? Bukankah
dalam proses pencapaian orgasme ini adalah hampir semuanya “kerjaan” Allah ?
Manusia disini (sang suami dan istri) hampir-hampir tidak memiliki saham. Yang
menciptakan semua physical maintenance untuk itu adalah Allah, manusia tinggal
terima jadi. Yang memasukkan pengetahuan tentang jima’ ini juga naluri alamiah
yang diinstall Allah sejak zaman azali. Yang memasukkan plug-ins non-physical
maintenance-nya juga Allah (untung kita dikasih piranti ruhani yang bisa
merasakan orgasme ini). Udah gitu, jika jima’ (antar suami istri) ini dilakukan
dengan ikhlas, Allah sudah menyiapkan benih generasi yang avant garde, garda
depan. Lah, kalo udah gini, kurang apa Allah ? Bukannya kita aja yang sebegitu
teganya “mengeluarkan” Allah dari kamar pengantin di malam pertama? Wedi
diintip paling yo. Belum lagi, pernikahan juga menjadikan ’hidup lebih
hidup’. Keberadaan pendamping setia membagi cerita, membagi suka duka, membagi
hari-hari.
(Nah lo, tanggung jawab koen fan, salahe ngajak aku nanggone
Arifin ... dadi ngomongku nglindur gak karuan)
Eh, kalo semua itu bener, itu semata-mata dari Allah. Kalo salah,
yo maklum ae, lha wong aku blom pernah nikah kok .....
Cuma, ada satu hal yang aku herankan. Kan tadi udah dibilang kalo
nikah itu bersatunya dua unsur yang jelas-jelas berbeda, tapi kok yo bisa
match, bisa klop, dan bisa akur ? Dimana ya rahasianya ? (mbok ya bagi yg
udah nikah, tolong aku di-share), soale terus terang aku masih nyari jawaban
ini.
Bicara lagi soal nikah, kalo memang sebanyak itu daftar enak-nya
pernikahan, maka terus terang, jiwaku ereksi menginginkan pernikahan antar
komponen bangsa. Pernikahan antara penguasa dengan rakyatnya. Pernikahan antara
buruh dengan majikannya, antara dosen dengan mahasiswanya, antar tetangga,
antar pemeluk agama, antar suku, dan antar kepentingan. SubhanaLlah jika hal
ini memang benar-benar terjadi di negeri seribu mimpi ini. Aku dengan sangat
bangga akan mengadakan pesta besar-besaran, mabuk dan hanyut dalam kegembiraan
tiada tara. Aku ikhlas untuk ‘hilang’ merayakan malam pertama pernikahan
kebangsaan ini. Kunanti-nantikan dengan segenap harap dan cemas orgasme
kebangsaan dari hasil persetubuhan ini, dimana dua mempelai ‘hilang diri’,
larut dalam sebuah kegembiraan bersama.
Indahnya semua ini. Dua mempelai tidak saling memaksa untuk
menjadi ini atau menjadi itu, melainkan dengan sadar diri saling menerima
perbedaan itu. Yang penguasa tidak lantas menindas rakyat, dan rakyat tidak
terus-terusan menyalahkan penguasanya. Begitu pula dengan buruh dan majikannya,
dan antar komponen bangsa yang lain. Layaknya pasangan pengantin baru, yang ada
hanya keindahan.
Bukankah selama ini kita sudah mengeluarkan ongkos yang begitu
besar demi sebuah kerinduan, kerinduan akan pernikahan kebangsaan ini ? Ongkos
material yang tak terhitung banyaknya, ongkos non material yang tak terkirakan
luka dan perihnya. Letih jiwa lelah raga sudah kita alami bersama. Bukankah
energi ini harusnya kita eman-eman untuk malam pertama kebangsaan nanti ?
Kalau pernikahan antar dua anak manusia saja menghasilkan begitu
banyak manfaat dan ke-enak-an yang subhanaLlah, maka tak terbayangkan-lah
manfaat pernikahan kebangsaan ini, dan ke-enak-an yang bisa dirasakan pun
pastilah maha subhanaLlah ....
subhanaLlah ...