Otak dan Hati Orang Indonesia
Mengunjungi sebuah anekdot lama tahun 80-an tentang otak orang
Indonesia ...
Konon, di sebuah tempat loakan otak manusia, terjadi hal yang mengejutkan. Otak
manusia-manusia macam Einstein, Abraham Lincoln, Al-Kindi, Ibnu Sina, maupun
para ilmuwan yang lain ternyata tidak laku. Justru yang laris manis dan
memiliki harga jual tinggi adalah otak manusia Indonesia. Dengarlah apa kata
SPG-nya waktu menawarkan otak orang Indonesia ini. "Masih fresh, sir.
Jarang dipakai !!"
Namun, melihat proses reformasi setengah hati dan setengah tiang ini, anekdot
diatas mungkin perlu kita revisi, yakni dengan menambahkan satu lagi organ,
yakni hati. Hati orang Indonesia di dunia jual beli organ bekas mungkin
hampir-hampir tidak memiliki nilai jual dan menjadi sampah. Bagaimana tidak ?
Orang Indonesia lebih suka memakai hati daripada otaknya. Hati orang Indonesia
selalu saja dipenuhi rasa tak rela tetangganya mendapat nikmat, tak rela kawannya
mendapat jabatan, disesaki prasangka-prasangka, dijejali nafsu-nafsu
kepemilikan yang tak habis-habis, dan ditanami rasa pamrih yang perih. Namun,
tentulah tidak semuanya. Di ujung yang lain, hati orang Indonesia begitu
pemaafnya, sehingga banyak kasus-kasus besar yang lenyap begitu saja. Begitu
pemaafnya, sehingga koruptor lebih layak "dimaafkan" kemudian
dilupakan dibanding dengan maling ayam yang "harus" diadili di tempat
kejadian perkara, tentunya dengan pertimbangan bahwa dosa korupsi lebih besar
dan karenanya lebih membutuhkan permaafan kita. Begitu pemaafnya sehingga
pembuat kebijakan yang menjerat rakyat lebih pantas "dimaafkan" dan
dipermaklumi dibanding menyebarkan paham-paham aneh (sesat ?), tentunya dengan
pertimbangan bahwa rakyat yang wawasan berfikirnya terbuka dengan beredarnya
paham-paham aneh lebih membahayakan daripada rakyat yang dimiskinkan dan
dibodohkan oleh sistem kebijakan dan pendidikan yang (dibuat) salah.
Posted at 24.4.07 by
acang