Untuk membangun sebuah bangunan, rumah misalnya, yang pertama
sekali dilakukan adalah membangun dan memperkuat pondasi. Namun, tidak asal
membangun pondasi. Dalam ilmu ketekniksipilan, banyak hal yang harus dilakukan
dan menjadi pertimbangan sebelum membangun pondasi. Antara lain, adalah
penyelidikan tanah, yang dilakukan untuk mengetahui kekuatan tanah yang pada
gilirannya akan dipakai sebagai pertimbangan dalam menentukan jenis pondasi
yang akan dipakai. Di samping itu, menentukan jenis pondasi haruslah didasarkan
pada jenis dan tipe struktur konstruksi yang akan dibangun diatasnya. Pondasi
untuk rumah sederhana dengan sebuah bangunan bertingkat tentunya sangat jauh
berbeda.
Kalau ada sebuah bangunan bernama Negara, pondasinya adalah rakyat
dan site-nya adalah wilayah. Sedangkan pemerintah adalah sebuah konsekuensi
logis atau sebuah akibat belaka. Untuk membangun sebuah negara yang kuat, maka
pondasinya lah yang harus diperkuat terlebih dahulu, yaitu rakyat. Mustahil
negara menjadi sebuah negara yang kuat dan bermartabat apabila pondasi yang
bernama rakyat tidak diperkuat terlebih dahulu. Peran pemerintah disini bisa
dianalogikan sebagai kontraktor yang diberi tugas membangun bangunan ini.
Katakanlah ada sebuah kompleks perumahan elite bernama Globalization
Village, yang mana bangunan-bangunan yang ada di area ini harus memiliki
standard-standard tertentu termasuk juga standard arsitekturalnya. Jadi untuk
bisa diterima di lingkungan ini, sebuah rumah harus mewah, dan berpenampilan
“meyakinkan”.
Alkisah, dalam proses pembangunannya, si kontraktor ini bekerja
keras mengejar “ketertinggalan” progress-nya. Sebenarnya pondasi yang
dipersiapkan masih belum kuat benar, namun demi prestige, si kontraktor
meneruskannya dengan menaikkan kolom dan mulai memasang dinding batanya walau
kesan dipaksakan amat sangat kentara. Semuanya demi satu hal, hanya untuk “diterima”
di lingkungan ini dan memiliki semacam phobia untuk dikeluarkan dari
lingkungan ini. Setelah pekerjaan kolom dan dinding mulai dijalankan, mulai
terasa (walau belum kelihatan secara kasat mata) bahwa ternyata pondasinya
“bermasalah”.
Mungkin seperti inilah apa yang dilakukan pemerintah dengan
menaikkan harga BBM. Menaikkan harga BBM ini ibarat pemerintah sedang menaikkan
kolom diatas pondasi yang belum kuat benar. Sebenarnya, bukan hanya soal
pondasinya, namun pengenalan (ma’rifat) terhadap pondasi ini masih bisa
dipertanyakan. Sejauh mana pondasi ini dikenal oleh pemerintah ? Sejauh apa
pendataan yang dilakukan terhadap orang miskin yang akan dikasih subsidi
langsung ? Sejauh apa validasi data yang telah dikumpulkan ? Seperti apa
kriteria miskin ? Apakah benar-benar miskin atau “dimiskinkan”, baik itu oleh
system maupun oleh komunitas, karena yang penting bukan kaya atau miskin,
melainkan bagaimana ia menjadi kaya atau bagaimana suatu pihak dimiskinkan,
dalam segala aspek (bukan hanya dalam material semata).
Ada satu hal yang menarik disamping email yang aku terima beberapa
saat yang lalu. Yakni aku sempat bicara dengan seorang ibu di Terminal
Bungurasih yang bilang bahwa betapa beruntungnya dia yang dari 5 orang anaknya,
hanya satu yang sekolah. Apa pasalnya ?? Dia bilang bahwa meskipun dia mendapat
kompensasi dana BBM tadi, hampir 50 persennya terpakai buat biaya transportasi
sang anak yang sekolah tadi. Nah, pertanyaannya … apakah sisa 50% bisa untuk
mengkompensasi multiplayer-effect dari kenaikan harga BBM, seperti
naiknya hrga sembako dan harga yang lain ? Itu baru satu anak yang sekolah,
bagaimana kalau semua anaknya yang sekolah ? Pantas saja si ibu bilang betapa
beruntungnya dia.
Kalau dana kompensasi ini hanya untuk sekedar mem-balance
kenaikan harga BBM tadi, kapan mereka-mereka ini bisa entas dari kemiskinan.
Jadi inget jargon dari Live8 kemaren yang mengadakan konser serentak di
kota-kota besar dunia dengan artis-artis top tanpa bayaran, yang mengangkat
tema LETS MAKE POVERTY HISTORY.
Ada satu cerita pribadi dari Cak Nun yang dialaminya saat dia
masih SMA waktu sekolah di Yogya. Waktu itu, dia dalam perjalanan pulang naek
KA ke Jombang dr Yogya, dan kebetulan nyangkruk di sela antar gerbong.
Beberapa saat sebelum stasiun Madiun, ada seorang nenek yang memintanya
minggir. Saat kereta berjalan, sang nenek melemparkan satu karung bawaanya ke
tepi rel, kemudian karung berikutnya sampai empat karung. Dan begitu sampai si
stasiun Madiun, si nenek turun dan berjalan kembali memunguti karung˛nya tadi.
Sebenarnya Cak Nun muda waktu diminta minggir tadi, sudah menawarkan
bantuannya, namun si nenek hanya menjawabnya dengan tatapan. Beberapa saat lalu
(kira-kira 1 bulan yang lalu), Cak Nun berkata,” mungkin si nenek berkata dalam
bahasa diamnya, hai anak muda, kalau memang engkau mau membantu, pikirkanlah
bagaimana agar tidak ada lagi, atau minimal berkurang, orang sepertiku.”
( 08.10.05 ; malang-nya
malang )