5.3.07
BBM lagee ...

Untuk membangun sebuah bangunan, rumah misalnya, yang pertama sekali dilakukan adalah membangun dan memperkuat pondasi. Namun, tidak asal membangun pondasi. Dalam ilmu ketekniksipilan, banyak hal yang harus dilakukan dan menjadi pertimbangan sebelum membangun pondasi. Antara lain, adalah penyelidikan tanah, yang dilakukan untuk mengetahui kekuatan tanah yang pada gilirannya akan dipakai sebagai pertimbangan dalam menentukan jenis pondasi yang akan dipakai. Di samping itu, menentukan jenis pondasi haruslah didasarkan pada jenis dan tipe struktur konstruksi yang akan dibangun diatasnya. Pondasi untuk rumah sederhana dengan sebuah bangunan bertingkat tentunya sangat jauh berbeda.

Kalau ada sebuah bangunan bernama Negara, pondasinya adalah rakyat dan site-nya adalah wilayah. Sedangkan pemerintah adalah sebuah konsekuensi logis atau sebuah akibat belaka. Untuk membangun sebuah negara yang kuat, maka pondasinya lah yang harus diperkuat terlebih dahulu, yaitu rakyat. Mustahil negara menjadi sebuah negara yang kuat dan bermartabat apabila pondasi yang bernama rakyat tidak diperkuat terlebih dahulu. Peran pemerintah disini bisa dianalogikan sebagai kontraktor yang diberi tugas membangun bangunan ini.

Katakanlah ada sebuah kompleks perumahan elite bernama Globalization Village, yang mana bangunan-bangunan yang ada di area ini harus memiliki standard-standard tertentu termasuk juga standard arsitekturalnya. Jadi untuk bisa diterima di lingkungan ini, sebuah rumah harus mewah, dan berpenampilan “meyakinkan”.

Alkisah, dalam proses pembangunannya, si kontraktor ini bekerja keras mengejar “ketertinggalan” progress-nya. Sebenarnya pondasi yang dipersiapkan masih belum kuat benar, namun demi prestige, si kontraktor meneruskannya dengan menaikkan kolom dan mulai memasang dinding batanya walau kesan dipaksakan amat sangat kentara. Semuanya demi satu hal, hanya untuk “diterima” di lingkungan ini dan memiliki semacam phobia untuk dikeluarkan dari lingkungan ini. Setelah pekerjaan kolom dan dinding mulai dijalankan, mulai terasa (walau belum kelihatan secara kasat mata) bahwa ternyata pondasinya “bermasalah”.

Mungkin seperti inilah apa yang dilakukan pemerintah dengan menaikkan harga BBM. Menaikkan harga BBM ini ibarat pemerintah sedang menaikkan kolom diatas pondasi yang belum kuat benar. Sebenarnya, bukan hanya soal pondasinya, namun pengenalan (ma’rifat) terhadap pondasi ini masih bisa dipertanyakan. Sejauh mana pondasi ini dikenal oleh pemerintah ? Sejauh apa pendataan yang dilakukan terhadap orang miskin yang akan dikasih subsidi langsung ? Sejauh apa validasi data yang telah dikumpulkan ? Seperti apa kriteria miskin ? Apakah benar-benar miskin atau “dimiskinkan”, baik itu oleh system maupun oleh komunitas, karena yang penting bukan kaya atau miskin, melainkan bagaimana ia menjadi kaya atau bagaimana suatu pihak dimiskinkan, dalam segala aspek (bukan hanya dalam material semata).

Ada satu hal yang menarik disamping email yang aku terima beberapa saat yang lalu. Yakni aku sempat bicara dengan seorang ibu di Terminal Bungurasih yang bilang bahwa betapa beruntungnya dia yang dari 5 orang anaknya, hanya satu yang sekolah. Apa pasalnya ?? Dia bilang bahwa meskipun dia mendapat kompensasi dana BBM tadi, hampir 50 persennya terpakai buat biaya transportasi sang anak yang sekolah tadi. Nah, pertanyaannya … apakah sisa 50% bisa untuk mengkompensasi multiplayer-effect dari kenaikan harga BBM, seperti naiknya hrga sembako dan harga yang lain ? Itu baru satu anak yang sekolah, bagaimana kalau semua anaknya yang sekolah ? Pantas saja si ibu bilang betapa beruntungnya dia.

Kalau dana kompensasi ini hanya untuk sekedar mem-balance kenaikan harga BBM tadi, kapan mereka-mereka ini bisa entas dari kemiskinan. Jadi inget jargon dari Live8 kemaren yang mengadakan konser serentak di kota-kota besar dunia dengan artis-artis top tanpa bayaran, yang mengangkat tema LETS MAKE POVERTY HISTORY.

Ada satu cerita pribadi dari Cak Nun yang dialaminya saat dia masih SMA waktu sekolah di Yogya. Waktu itu, dia dalam perjalanan pulang naek KA ke Jombang dr Yogya, dan kebetulan nyangkruk di sela antar gerbong. Beberapa saat sebelum stasiun Madiun, ada seorang nenek yang memintanya minggir. Saat kereta berjalan, sang nenek melemparkan satu karung bawaanya ke tepi rel, kemudian karung berikutnya sampai empat karung. Dan begitu sampai si stasiun Madiun, si nenek turun dan berjalan kembali memunguti karung˛nya tadi. Sebenarnya Cak Nun muda waktu diminta minggir tadi, sudah menawarkan bantuannya, namun si nenek hanya menjawabnya dengan tatapan. Beberapa saat lalu (kira-kira 1 bulan yang lalu), Cak Nun berkata,” mungkin si nenek berkata dalam bahasa diamnya, hai anak muda, kalau memang engkau mau membantu, pikirkanlah bagaimana agar tidak ada lagi, atau minimal berkurang, orang sepertiku.”

( 08.10.05 ; malang-nya malang )


Posted at 5.3.07 by acang

 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments







Previous Entry Home Next Entry




acang
Male
sumenep


   





<< March 2007 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03
04 05 06 07 08 09 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30 31






Contact Me

If you want to be updated on this weblog Enter your email here:




rss feed