5.3.07
Romantisme Dunia Kemahasiswaan

Ada seorang pemuda berusia sekitar 20 tahun. Dengan tas ransel masih di punggung, sambil di tangannya yg sebelah kanan memegang hamburger sebagai makan siang, sementara tangan yang satunya sibuk diatas tuts keyboard laptopnya. Ia sedang mengerjakan laporan praktikum laboratoriumnya di sebuah cafe.

Sementara jauh disana, seorang pemuda dengan usia yang sama, dengan tas ransel yang juga masih di punggungnya, bergulat dengan peluh, dengan map lusuh di tangan kanannya, sedang tangan kirinya terjuntai begitu saja. Ia masih saja sibuk mengurus perijinan untuk praktikum laboratoriumnya. Entah masih berapa tanda tangan lagi yang harus ia kumpulkan untuk menikmati barang mewah bernama laboratorium.

Walau sedikit hiperbolik, itu adalah gambaran dua kutub dunia kemahasiswaan. Yang satu aku dapat di Jerman, dan yang satu lagi di sebuah negara mimpi bernama Indonesia Raya.

*

Tapi, ada satu hal yang sama diantara mereka, yakni berada di dunia yang sama, dunia kemahasiswaan. Adapun mengenai dua wajah yang berbeda, insyaAllah lain kali saja aku ceritakan.

Dunia Kemahasiswaan. Apakah itu ? Apakaha ia sebuah dunia dimensi lain seperti halnya yang digambarkan di kotak ajaib bernama televisi ?

Dunia kemahasiswaan, banyak (bahkan mungkin terlalu banyak) orang mendeskripsikannya. Maha dan Siswa, dua kata yang menjadikan dunia ini berdimensi lain. Atau ada juga yang mengagung-agungkan dunia kemahasiswaan sebagai dunia tempat berkumpulnya para akademisi. Dan apa pula akademisi itu ? Masih terlalu banyak hal yang perlu diperdebatkan.

Dunia kemahasiswaan sebenarnya tak jauh beda dengan dunia yang lain, seperti dunia tukang, dunia buruh bahkan dunia pelacur sekalipun. Yang mungkin membedakan adalah adanya sebuah rasa fanatisme yang menganggap kita lebih dari yang lain.

Banggakah kita , kalau ada sebagian teman kita yang mengatasnamakan mahasiswa mengangkat spanduk “Turunkan SBY”, sedangkan para buruh bisa juga demo untuk hal yang lebih riil. Ataukah kita merasa bangga karena kita merupakan bagian dari sekumpulan orang (tidak sampai 10% lulusan SMU) yang bisa melanjutkan pendidikan lagi ?

*

Baru baru ini sebuah film cukup sukses di pasaran, berjudul Gie yang dibintangi Nicholas Saputra. Soe Hok Gie, yang mati di pangkuan Mahameru, sekarang bisa bangga pada dirinya. Ia bukan anak manis yang menenggelamkan diri pada puisi, menghambur-hamburkan rangkaian kata manis, padahal ia di jurusan sastra. Kekuatannya untuk memilih tidak di kiri dan kanan, menyebabkan keterasingan baginya. Bahkan ia merasa makin tidak cocok dengan sistem pendidikan yang [ia rasa] menindas akal sehat dan hanya akan melahirkan generasi beo. Bukankah ia sendiri yang lebih memilih keterasingan daripada menyerah pada kemunafikan ?

Sebuah sosok yang juga pantas disandingkan dengan Gie adalah Ahmad Wahib. Ahmad Wahib telah memainkan peran mahasiswa dengan pola pemikiran yang maju, yang kejujuran dan komitmennya kepada kebenaran sungguh mempesona hati. Tawaran pemikirannya yang mendobrak sekat-sekat feodal atas nama agama, harus dibayarnya dengan keluar dari HMI, yang pada saat itu menjadi tangga sukses menuju kursi menteri. Ia terus merekonstruksi pemikirannya tentang Islam.

Dan entah bagaimana, kedua orang diatas memiliki kesamaan yang menakjubkan. Sama-sama lahir tahun 1942, sama-sama mahasiswa, sama-sama pecinta kebenaran, sama-sama pemikir, sama-sama suka menulis catatan harian (Gie dengan Catatan Harian Seorang Demonstran dan Wahib dengan Pergolakan Pemikiran Islam) dan sama-sama mati muda. Wahib mati oleh tabrak lari di Jakarta, sedang Gie menyerahkan nyawanya di Mahameru. Yang berbeda hanya tempat kelahirannya, Gie di Jakarta dan Wahib di Sampang.

Emha Ainun Nadjib. Ia (mungkin sudah bosan) dikeluarkan dari sekolah. Saat SD, ia dikeluarkan dari sekolah karena ‘menghukum’ gurunya yg datang terlambat. Saat SMP di Ponpes Gontor, ia ‘mengundurkan diri’ dari pondok karena ‘mempertanyakan’ hak istimewa senior-seniornya.

Bagi banyak orang, orang-orang macam ini adalah orang-orang pemberontak. Tapi mereka bertiga tetap tegar dengan sikapnya. Bagi mereka, keadilan dan kebenaran adalah kata kunci. Dua hal ini menjadi titik pusat nilai dalam aktualisasi peran sosialnya. Atas nama keadilan, mereka merasa wajib menggedor-gedor langit birokrasi. Atas nama kebenaran, mereka meneropong sistem dan struktur sosial yang menganiaya manusia dan kemanusiaan, kekuasaan yang korup dan menindas, kemapanan yang melahirkan dekadensi, dsb.

Bukankah Muhammad Sang Nabi, mendobrak kemapanan jahiliyah yang melahirkan dekadensi di segala sisi ??

*

Secara singkat, apa sih kelebihan mereka ? Tidak lain karena mereka punya SIKAP. Mereka punya batasan nilai yang diyakininya dengan kuat hingga saat ini.

Jeruji besi tidak cukup kuat memecahkan keyakinan tersebut.

Dalam dunia kemahasiswaan, cukup beranikah kita berteriak, mengkritik segala hal yang tidak mapan? Jeruji-jeruji ancaman ketidaklulusan sering kali mematikan keberanian kita. Seringkali, kita memilih untuk bersikap sebagai bunglon, untuk cari selamat.

Kita sering kali terlalu cepat memvonis diri bahwa kita tidak mampu. Padahal sebenarnya kita dapat mengatasi perasaan ketidakmampuan itu. Sering kali kita merasa sebagai seorang yang diombang-ambingkan kebingungan padahal sesungguhnya sanggup berdiri tegak, seorang yang merasa bahwa ia hanya buih yang terhanyut padahal sebagai manusia ia adalah pengendali gelombang, seorang yang malas dan pengecut.

Padahal sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang paling tinggi, ia mampu mengendalikan apa saja, apalagi sekadar gejala picisan dalam jiwa seperti marah, takut, bingung, dsb.

*

SIKAP, adalah kata kuncinya. Bersikap sedikit nakal, tidaklah selalu identik bahwa kita adalah okem-okem pasar yang bertindak semaunya. Orang-orang besar macam Soekarno, Hitler, Mussolini, Benny Murdani, Rendra, saat kecil bukanlah anak-anak yang manis dan penurut. Teroris-teroris besar kelas kakap dunia, juga bukanlah berasal dari okem-okem pasar dan kampung yang tidak punya latar belakang kehidupan yang jelas. Carlos anak milyuner dari Venezuela. Netchayev adalah seorang mahasiswa di saat di Rusia baru ada 1000 mahasiswa. Juga Bakunin dan Ulianinov, kakak Lenin. George Habash dan Widi Hadad adalah dokter yang pernah buka klinik sendiri. Tanpa hidup nyleneh sebagai teroris, mereka pasti bisa hidup mapan, tentram dan damai. Tapi mereka punya pilihan lain. Mereka punya sikap lain yang sangat mereka yakini kebenarannya. Dan mereka pun bisa menjadi orang besar, karena konsisten dengan sikapnya.

Bagaimana dengan kita sendiri.

Haruskah kita bangga dengan predikat kita sebagai mahasiswa ?

Ya, kita harus bangga. Tapi bukan karena kita menjadi mahasiswa. Kita boleh bangga, kalau kita punya sikap. Urusan belakangan kalau ternyata sikap kita itu sebanarnya salah. Saat kita bersikap, di sanalah tampak kedewasaan kita, kebesaran kita. Dan saat itulah barulah kita boleh bangga, bahwa kita adalah mahasiswa. Kebanggaan inilah yang harus kita cari, harus kita buat sendiri. Jangan lagi karena kebetulan status kita adalah mahasiswa.

Be your self with your own mind!

Malang, 06.08.05, abis “nyalain kompor” di HMS
Buat Kahim, sory kalo nyala kompornya kegedean

Referensi :

Valens Riyadi, Dunia Kemahasiswaan, Sebuah Fanatisme Romantis (milis C96)

Andrias Harefa, Soe Hok Gie: Prototipe Manusia Guru

Soe Hok Gie, Catatan Harian Seorang Demonstran

Ahmad Wahib, Pergolakan Pemikiran Islam


Posted at 5.3.07 by acang

yourshop.cc
December 4, 2008   03:44 PM PST
 
http://www.watchesforsale.us
 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments







Previous Entry Home Next Entry




acang
Male
sumenep


   





<< March 2007 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03
04 05 06 07 08 09 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30 31






Contact Me

If you want to be updated on this weblog Enter your email here:




rss feed