kemarin ada temenku nulis cerita tentang mbah penjual mie instant
di depan kampus, yang menyediakan waktu istirahatnya diganggu orkestra
keroncongan perut mahasiswa yang kelaparan selepas tengah malam.
"mbah mie" dia menyebutnya
tinggal tunjuk mau merk mie yang mana, then ... sim salabim,
jadilah semangkuk mie panas yang bisa meredakan orkestra keroncongan tadi.
instant ... langsung jadi ...
mie instant, kopi instant, teh instant, rakyat instant, mahasiswa
instant, dosen instant, dekan instant, rektor instant, hingga presiden instant.
seperti halnya etalase kaca tempat memajang mie instant berbagai
merk ... ada juga sebuah tempat yang tidak kalah menterengnya. desain interior
dan eksteriornya dibuat sedemikian rupa untuk menarik perhatian. namanya PTN.
Eits, anda jangan suuddhan dulu menyangka PTN adalah Perguruan Tinggi Negeri.
PTN disini adalah Plaza Tinggi Negeri. Dalam etalase beningnya -seperti mie
instant- dipajang berbagai produk instant berbagai merk dari SH sampai ST, dari
SE sampai SP, berjajar bersama-sama STMJ dan SPG. tentunya dengan berbagai
variasi harga dong, tergantung fasilitas yang ditawarkannya. kalau mau yang
pake telor, beda dong sama yang pake bakso. semuanya sih tergantung selera dan
kesepakatan.
jadi, siapa yang tidak memiliki kemampuan membuat kesepakatan,
disarankan jangan dekat-dekat PTN, sebab aromanya bisa membuat orkestra
keroncongan berbunyi lebih nyaring, disusul oleh yang namanya ngiler, kemudian
tidak mampu menahan diri, lalu demo. demo masak maksudnya. nah, demo ini sangat
tidak menunjang bagi keberadaan sebuah Plaza. demo bisa membuat nilai jual PTN
tadi turun. jadi, segala kemungkinan dan peluang yang bisa membuat terjadinya
demo harus diantisipasi sejak dini. inget lho, gak ada yang melarang demo, apalagi
Indonesia kan negara demokrasi, yang sedikit-sedikit demonstrasi, lalu demolagi
demolagi, sampai akhirnya aborsi.
kok jadi ke aborsi ? lha wong tadi ngomong soal instant ...
jadi, jangan heran kalo banyak orang-orang instant bertebaran di
jalan-jalan, di mal-mal, di kampung-kampung, dan perkantoran. berhenti di
halte, ada minuman instant untuk meredakan haus. berhenti di terminal, ada mie
instant. terjebak dalam jaring birokrasi, jangan khawatir, banyak produk
instant yang ditawarkan. bahkan setiap 5 tahun, banyak calon-calon pemimpin
instant untuk menjadi presiden dan wakil rakyat instant.
kalo kopi instant, gak perlu repot-repot nyari bubuk kopi dan
menakarnya dengan takaran yang sesuai. tinggal terima jadi, dan syaratnya anda
harus percaya kepada pabrik yang bikin kopi instant tadi bahwa takaran kopi dan
gulanya sudah benar-benar yang paling pas buat anda. jadi, anda gak boleh pake
otak anda untuk berfikir mengenai takaran dan dosisnya. pokoknya, anda harus
percaya. kalo misalnya nanti setelah kopi habis, perut anda mules, itu urusan
dokter dan rumah sakit instant untuk menanganinya.
kalo presiden instant atau wakil rakyat, gak perlu repot-repot
anda mempertanyakan kapabilitas dan kredibilitasnya. anda cukup percaya saja
dengan suara yang keluar dari speaker selama masa kampanye, atau anda percaya
saja pada stiker-stiker yang nempel di tiang listrik, kaca bis, dan papan
pengumuman. yang penting, anda gak boleh pake otak dan pake hati untuk
memberikan penilaian terhadap kapabilitas dan kredibilitasnya. bukan apa-apa,
ini demi kebaikan anda sendiri. sebab, kalo sampe otak dan hati anda anda pake
untuk itu, jangan kaget dan terkencing-kencing kalo akhirnya anda terdampar di
sebuah pulau bernama rumah sakit jiwa.
nah, masih ada sebuah produk instant yang cukup elit. ada ulama
atau kiai instant. anda cukup percaya saja pada logatnya, pada pakaiannya, pada
surbannya, ditambah ayat suci dan beberapa hadits, syukur-syukur bisa ndukun
sedikit. gampang kan ?? anda gak perlu nginthil dia selama 24 jam untuk
melihat sejauh mana akhlaqnya pada masyarakat, sejauh mana manfaat
keberadaannya, atau kesediannya melekan menemani umatnya yang kebetulan
sakit misalnya. bukan apa-apa, kalo anda lakukan demikian, anda sendiri yang
bakalan repot.
memang bener-bener asik hidup di sebuah Republik Instant. sambil leyeh-leyeh
merem melek, kita bisa lihat artis instant yang ngebor njengking sampai
pejabat instant yang sedang ngobral dagangannya. tentunya sambil ditemani mie
instant dan kopi instant, boleh sambil nyanyi lagu yang dinyanyikan Cak Nun
selama di Korea yang berjudul “Asek” .... Asek..untum mawar meraaaahhh .....
oooo ...
coba, mana ada republik yang lebih asik ???