 |
 |
 |
 |
 |
|
5.5.07
marriage and nationality orgasm
Marriage ? Pernikahan ? Mungkin udah bosen abis aku dengerin kata
yg satu ini deh. Gimana nggak coba ? Dalam seminggu terakhir ini udah ada empat
kali yang nawarin nikah. Mana dari rumah, orang tua juga udah nyuruh cepet²
nikah lagi. Blom lagi sms dari si ikhwan .... sialan koen wan ...
(anyway, selamat yo, wis lahir Ichwan jr, M. AGHA ZULFADHLI).
Gak tahu gimana yah, hari Jumat kemaren aku ngajak si irfan maen
ke tempat Arifin yg sekarang udah ‘uzlah (hehe, ngapunten pin, abisnya
omah-e uadoh poll, wis jalane sepi, sawah thok, plus kesasar pisan). Lah,
kok yo pulang-pulangnya dari Arifin, si Irfan kok pikiran-e sik nyantol di
rumahnya si Ipin, mergone ...... <<censored>>
Katanya sih, nikah itu lebih banyak enaknya daripada nggaknya.
Padahal kan orang nikah itu kan seperti bersatunya dua orang yang jelas-jelas
berbeda. Yang satu laki-laki, yang satu wanita. Belum lagi sifat, kondisi
keluarga, sosial ekonomi, dst ... dst. Tapi kok ya bisa akur ? Malah bisa lebur
dalam artian yang sebenarnya. Mungkin karena itu Allah menghalalkan jima’
(hubungan seks) antara suami istri, yang katanya gak enak, tapi uenakk (iki
jarene lho ya). Bahkan kata Shamsuddin Tabriz, orgasme seks ini bisa mengantarkanmu
membaui wewangian surga dan mendzikirkan Allah. Bagaimana tidak ? Bukankah
dalam proses pencapaian orgasme ini adalah hampir semuanya “kerjaan” Allah ?
Manusia disini (sang suami dan istri) hampir-hampir tidak memiliki saham. Yang
menciptakan semua physical maintenance untuk itu adalah Allah, manusia tinggal
terima jadi. Yang memasukkan pengetahuan tentang jima’ ini juga naluri alamiah
yang diinstall Allah sejak zaman azali. Yang memasukkan plug-ins non-physical
maintenance-nya juga Allah (untung kita dikasih piranti ruhani yang bisa
merasakan orgasme ini). Udah gitu, jika jima’ (antar suami istri) ini dilakukan
dengan ikhlas, Allah sudah menyiapkan benih generasi yang avant garde, garda
depan. Lah, kalo udah gini, kurang apa Allah ? Bukannya kita aja yang sebegitu
teganya “mengeluarkan” Allah dari kamar pengantin di malam pertama? Wedi
diintip paling yo. Belum lagi, pernikahan juga menjadikan ’hidup lebih
hidup’. Keberadaan pendamping setia membagi cerita, membagi suka duka, membagi
hari-hari.
(Nah lo, tanggung jawab koen fan, salahe ngajak aku nanggone
Arifin ... dadi ngomongku nglindur gak karuan)
Eh, kalo semua itu bener, itu semata-mata dari Allah. Kalo salah,
yo maklum ae, lha wong aku blom pernah nikah kok .....
Cuma, ada satu hal yang aku herankan. Kan tadi udah dibilang kalo
nikah itu bersatunya dua unsur yang jelas-jelas berbeda, tapi kok yo bisa
match, bisa klop, dan bisa akur ? Dimana ya rahasianya ? (mbok ya bagi yg
udah nikah, tolong aku di-share), soale terus terang aku masih nyari jawaban
ini.
Bicara lagi soal nikah, kalo memang sebanyak itu daftar enak-nya
pernikahan, maka terus terang, jiwaku ereksi menginginkan pernikahan antar
komponen bangsa. Pernikahan antara penguasa dengan rakyatnya. Pernikahan antara
buruh dengan majikannya, antara dosen dengan mahasiswanya, antar tetangga,
antar pemeluk agama, antar suku, dan antar kepentingan. SubhanaLlah jika hal
ini memang benar-benar terjadi di negeri seribu mimpi ini. Aku dengan sangat
bangga akan mengadakan pesta besar-besaran, mabuk dan hanyut dalam kegembiraan
tiada tara. Aku ikhlas untuk ‘hilang’ merayakan malam pertama pernikahan
kebangsaan ini. Kunanti-nantikan dengan segenap harap dan cemas orgasme
kebangsaan dari hasil persetubuhan ini, dimana dua mempelai ‘hilang diri’,
larut dalam sebuah kegembiraan bersama.
Indahnya semua ini. Dua mempelai tidak saling memaksa untuk
menjadi ini atau menjadi itu, melainkan dengan sadar diri saling menerima
perbedaan itu. Yang penguasa tidak lantas menindas rakyat, dan rakyat tidak
terus-terusan menyalahkan penguasanya. Begitu pula dengan buruh dan majikannya,
dan antar komponen bangsa yang lain. Layaknya pasangan pengantin baru, yang ada
hanya keindahan.
Bukankah selama ini kita sudah mengeluarkan ongkos yang begitu
besar demi sebuah kerinduan, kerinduan akan pernikahan kebangsaan ini ? Ongkos
material yang tak terhitung banyaknya, ongkos non material yang tak terkirakan
luka dan perihnya. Letih jiwa lelah raga sudah kita alami bersama. Bukankah
energi ini harusnya kita eman-eman untuk malam pertama kebangsaan nanti ?
Kalau pernikahan antar dua anak manusia saja menghasilkan begitu
banyak manfaat dan ke-enak-an yang subhanaLlah, maka tak terbayangkan-lah
manfaat pernikahan kebangsaan ini, dan ke-enak-an yang bisa dirasakan pun
pastilah maha subhanaLlah ....
subhanaLlah ...
Posted at 5.5.07 by acang
Permalink
24.4.07
Otak dan Hati Orang Indonesia
Mengunjungi sebuah anekdot lama tahun 80-an tentang otak orang
Indonesia ...
Konon, di sebuah tempat loakan otak manusia, terjadi hal yang mengejutkan. Otak
manusia-manusia macam Einstein, Abraham Lincoln, Al-Kindi, Ibnu Sina, maupun
para ilmuwan yang lain ternyata tidak laku. Justru yang laris manis dan
memiliki harga jual tinggi adalah otak manusia Indonesia. Dengarlah apa kata
SPG-nya waktu menawarkan otak orang Indonesia ini. "Masih fresh, sir.
Jarang dipakai !!"
Namun, melihat proses reformasi setengah hati dan setengah tiang ini, anekdot
diatas mungkin perlu kita revisi, yakni dengan menambahkan satu lagi organ,
yakni hati. Hati orang Indonesia di dunia jual beli organ bekas mungkin
hampir-hampir tidak memiliki nilai jual dan menjadi sampah. Bagaimana tidak ?
Orang Indonesia lebih suka memakai hati daripada otaknya. Hati orang Indonesia
selalu saja dipenuhi rasa tak rela tetangganya mendapat nikmat, tak rela kawannya
mendapat jabatan, disesaki prasangka-prasangka, dijejali nafsu-nafsu
kepemilikan yang tak habis-habis, dan ditanami rasa pamrih yang perih. Namun,
tentulah tidak semuanya. Di ujung yang lain, hati orang Indonesia begitu
pemaafnya, sehingga banyak kasus-kasus besar yang lenyap begitu saja. Begitu
pemaafnya, sehingga koruptor lebih layak "dimaafkan" kemudian
dilupakan dibanding dengan maling ayam yang "harus" diadili di tempat
kejadian perkara, tentunya dengan pertimbangan bahwa dosa korupsi lebih besar
dan karenanya lebih membutuhkan permaafan kita. Begitu pemaafnya sehingga
pembuat kebijakan yang menjerat rakyat lebih pantas "dimaafkan" dan
dipermaklumi dibanding menyebarkan paham-paham aneh (sesat ?), tentunya dengan
pertimbangan bahwa rakyat yang wawasan berfikirnya terbuka dengan beredarnya
paham-paham aneh lebih membahayakan daripada rakyat yang dimiskinkan dan
dibodohkan oleh sistem kebijakan dan pendidikan yang (dibuat) salah.
Posted at 24.4.07 by acang
Permalink
5.3.07
Untuk membangun sebuah bangunan, rumah misalnya, yang pertama
sekali dilakukan adalah membangun dan memperkuat pondasi. Namun, tidak asal
membangun pondasi. Dalam ilmu ketekniksipilan, banyak hal yang harus dilakukan
dan menjadi pertimbangan sebelum membangun pondasi. Antara lain, adalah
penyelidikan tanah, yang dilakukan untuk mengetahui kekuatan tanah yang pada
gilirannya akan dipakai sebagai pertimbangan dalam menentukan jenis pondasi
yang akan dipakai. Di samping itu, menentukan jenis pondasi haruslah didasarkan
pada jenis dan tipe struktur konstruksi yang akan dibangun diatasnya. Pondasi
untuk rumah sederhana dengan sebuah bangunan bertingkat tentunya sangat jauh
berbeda.
Kalau ada sebuah bangunan bernama Negara, pondasinya adalah rakyat
dan site-nya adalah wilayah. Sedangkan pemerintah adalah sebuah konsekuensi
logis atau sebuah akibat belaka. Untuk membangun sebuah negara yang kuat, maka
pondasinya lah yang harus diperkuat terlebih dahulu, yaitu rakyat. Mustahil
negara menjadi sebuah negara yang kuat dan bermartabat apabila pondasi yang
bernama rakyat tidak diperkuat terlebih dahulu. Peran pemerintah disini bisa
dianalogikan sebagai kontraktor yang diberi tugas membangun bangunan ini.
Katakanlah ada sebuah kompleks perumahan elite bernama Globalization
Village, yang mana bangunan-bangunan yang ada di area ini harus memiliki
standard-standard tertentu termasuk juga standard arsitekturalnya. Jadi untuk
bisa diterima di lingkungan ini, sebuah rumah harus mewah, dan berpenampilan
“meyakinkan”.
Alkisah, dalam proses pembangunannya, si kontraktor ini bekerja
keras mengejar “ketertinggalan” progress-nya. Sebenarnya pondasi yang
dipersiapkan masih belum kuat benar, namun demi prestige, si kontraktor
meneruskannya dengan menaikkan kolom dan mulai memasang dinding batanya walau
kesan dipaksakan amat sangat kentara. Semuanya demi satu hal, hanya untuk “diterima”
di lingkungan ini dan memiliki semacam phobia untuk dikeluarkan dari
lingkungan ini. Setelah pekerjaan kolom dan dinding mulai dijalankan, mulai
terasa (walau belum kelihatan secara kasat mata) bahwa ternyata pondasinya
“bermasalah”.
Mungkin seperti inilah apa yang dilakukan pemerintah dengan
menaikkan harga BBM. Menaikkan harga BBM ini ibarat pemerintah sedang menaikkan
kolom diatas pondasi yang belum kuat benar. Sebenarnya, bukan hanya soal
pondasinya, namun pengenalan (ma’rifat) terhadap pondasi ini masih bisa
dipertanyakan. Sejauh mana pondasi ini dikenal oleh pemerintah ? Sejauh apa
pendataan yang dilakukan terhadap orang miskin yang akan dikasih subsidi
langsung ? Sejauh apa validasi data yang telah dikumpulkan ? Seperti apa
kriteria miskin ? Apakah benar-benar miskin atau “dimiskinkan”, baik itu oleh
system maupun oleh komunitas, karena yang penting bukan kaya atau miskin,
melainkan bagaimana ia menjadi kaya atau bagaimana suatu pihak dimiskinkan,
dalam segala aspek (bukan hanya dalam material semata).
Ada satu hal yang menarik disamping email yang aku terima beberapa
saat yang lalu. Yakni aku sempat bicara dengan seorang ibu di Terminal
Bungurasih yang bilang bahwa betapa beruntungnya dia yang dari 5 orang anaknya,
hanya satu yang sekolah. Apa pasalnya ?? Dia bilang bahwa meskipun dia mendapat
kompensasi dana BBM tadi, hampir 50 persennya terpakai buat biaya transportasi
sang anak yang sekolah tadi. Nah, pertanyaannya … apakah sisa 50% bisa untuk
mengkompensasi multiplayer-effect dari kenaikan harga BBM, seperti
naiknya hrga sembako dan harga yang lain ? Itu baru satu anak yang sekolah,
bagaimana kalau semua anaknya yang sekolah ? Pantas saja si ibu bilang betapa
beruntungnya dia.
Kalau dana kompensasi ini hanya untuk sekedar mem-balance
kenaikan harga BBM tadi, kapan mereka-mereka ini bisa entas dari kemiskinan.
Jadi inget jargon dari Live8 kemaren yang mengadakan konser serentak di
kota-kota besar dunia dengan artis-artis top tanpa bayaran, yang mengangkat
tema LETS MAKE POVERTY HISTORY.
Ada satu cerita pribadi dari Cak Nun yang dialaminya saat dia
masih SMA waktu sekolah di Yogya. Waktu itu, dia dalam perjalanan pulang naek
KA ke Jombang dr Yogya, dan kebetulan nyangkruk di sela antar gerbong.
Beberapa saat sebelum stasiun Madiun, ada seorang nenek yang memintanya
minggir. Saat kereta berjalan, sang nenek melemparkan satu karung bawaanya ke
tepi rel, kemudian karung berikutnya sampai empat karung. Dan begitu sampai si
stasiun Madiun, si nenek turun dan berjalan kembali memunguti karung²nya tadi.
Sebenarnya Cak Nun muda waktu diminta minggir tadi, sudah menawarkan
bantuannya, namun si nenek hanya menjawabnya dengan tatapan. Beberapa saat lalu
(kira-kira 1 bulan yang lalu), Cak Nun berkata,” mungkin si nenek berkata dalam
bahasa diamnya, hai anak muda, kalau memang engkau mau membantu, pikirkanlah
bagaimana agar tidak ada lagi, atau minimal berkurang, orang sepertiku.”
( 08.10.05 ; malang-nya
malang )
Posted at 5.3.07 by acang
Permalink
Romantisme Dunia Kemahasiswaan
Ada seorang pemuda berusia sekitar 20 tahun. Dengan tas ransel
masih di punggung, sambil di tangannya yg sebelah kanan memegang hamburger
sebagai makan siang, sementara tangan yang satunya sibuk diatas tuts keyboard
laptopnya. Ia sedang mengerjakan laporan praktikum laboratoriumnya di sebuah
cafe.
Sementara jauh disana, seorang pemuda dengan usia yang sama,
dengan tas ransel yang juga masih di punggungnya, bergulat dengan peluh, dengan
map lusuh di tangan kanannya, sedang tangan kirinya terjuntai begitu saja. Ia
masih saja sibuk mengurus perijinan untuk praktikum laboratoriumnya. Entah
masih berapa tanda tangan lagi yang harus ia kumpulkan untuk menikmati barang
mewah bernama laboratorium.
Walau sedikit hiperbolik, itu adalah gambaran dua kutub dunia
kemahasiswaan. Yang satu aku dapat di Jerman, dan yang satu lagi di sebuah
negara mimpi bernama Indonesia Raya.
*
Tapi, ada satu hal yang sama diantara mereka, yakni berada di dunia
yang sama, dunia kemahasiswaan. Adapun mengenai dua wajah yang berbeda,
insyaAllah lain kali saja aku ceritakan.
Dunia Kemahasiswaan. Apakah itu ? Apakaha ia sebuah dunia dimensi
lain seperti halnya yang digambarkan di kotak ajaib bernama televisi ?
Dunia kemahasiswaan, banyak (bahkan mungkin terlalu banyak) orang
mendeskripsikannya. Maha dan Siswa, dua kata yang menjadikan dunia ini
berdimensi lain. Atau ada juga yang mengagung-agungkan dunia kemahasiswaan
sebagai dunia tempat berkumpulnya para akademisi. Dan apa pula akademisi itu ?
Masih terlalu banyak hal yang perlu diperdebatkan.
Dunia kemahasiswaan sebenarnya tak jauh beda dengan dunia yang
lain, seperti dunia tukang, dunia buruh bahkan dunia pelacur sekalipun. Yang
mungkin membedakan adalah adanya sebuah rasa fanatisme yang menganggap
kita lebih dari yang lain.
Banggakah kita , kalau ada sebagian teman kita yang
mengatasnamakan mahasiswa mengangkat spanduk “Turunkan SBY”, sedangkan para
buruh bisa juga demo untuk hal yang lebih riil. Ataukah kita merasa bangga
karena kita merupakan bagian dari sekumpulan orang (tidak sampai 10% lulusan
SMU) yang bisa melanjutkan pendidikan lagi ?
*
Baru baru ini sebuah film cukup sukses di pasaran, berjudul Gie
yang dibintangi Nicholas Saputra. Soe Hok Gie, yang mati di pangkuan Mahameru,
sekarang bisa bangga pada dirinya. Ia bukan anak manis yang menenggelamkan diri
pada puisi, menghambur-hamburkan rangkaian kata manis, padahal ia di jurusan
sastra. Kekuatannya untuk memilih tidak di kiri dan kanan, menyebabkan keterasingan
baginya. Bahkan ia merasa makin tidak cocok dengan sistem pendidikan yang [ia
rasa] menindas akal sehat dan hanya akan melahirkan generasi beo. Bukankah ia
sendiri yang lebih memilih keterasingan daripada menyerah pada kemunafikan ?
Sebuah sosok yang juga pantas disandingkan dengan Gie adalah Ahmad
Wahib. Ahmad Wahib telah memainkan peran mahasiswa dengan pola pemikiran yang
maju, yang kejujuran dan komitmennya kepada kebenaran sungguh mempesona hati.
Tawaran pemikirannya yang mendobrak sekat-sekat feodal atas nama agama, harus
dibayarnya dengan keluar dari HMI, yang pada saat itu menjadi tangga sukses
menuju kursi menteri. Ia terus merekonstruksi pemikirannya tentang Islam.
Dan entah bagaimana, kedua orang diatas memiliki kesamaan yang
menakjubkan. Sama-sama lahir tahun 1942, sama-sama mahasiswa, sama-sama pecinta
kebenaran, sama-sama pemikir, sama-sama suka menulis catatan harian (Gie dengan
Catatan Harian Seorang Demonstran dan Wahib dengan Pergolakan Pemikiran Islam)
dan sama-sama mati muda. Wahib mati oleh tabrak lari di Jakarta, sedang Gie
menyerahkan nyawanya di Mahameru. Yang berbeda hanya tempat kelahirannya, Gie
di Jakarta dan Wahib di Sampang.
Emha Ainun Nadjib. Ia (mungkin sudah bosan) dikeluarkan dari
sekolah. Saat SD, ia dikeluarkan dari sekolah karena ‘menghukum’ gurunya yg
datang terlambat. Saat SMP di Ponpes Gontor, ia ‘mengundurkan diri’ dari pondok
karena ‘mempertanyakan’ hak istimewa senior-seniornya.
Bagi banyak orang, orang-orang macam ini adalah orang-orang
pemberontak. Tapi mereka bertiga tetap tegar dengan sikapnya. Bagi mereka,
keadilan dan kebenaran adalah kata kunci. Dua hal ini menjadi titik pusat nilai
dalam aktualisasi peran sosialnya. Atas nama keadilan, mereka merasa wajib
menggedor-gedor langit birokrasi. Atas nama kebenaran, mereka meneropong sistem
dan struktur sosial yang menganiaya manusia dan kemanusiaan, kekuasaan yang
korup dan menindas, kemapanan yang melahirkan dekadensi, dsb.
Bukankah Muhammad Sang Nabi, mendobrak kemapanan jahiliyah yang
melahirkan dekadensi di segala sisi ??
*
Secara singkat, apa sih kelebihan mereka ? Tidak lain karena
mereka punya SIKAP. Mereka punya batasan nilai yang diyakininya dengan kuat
hingga saat ini.
Jeruji besi tidak cukup kuat memecahkan keyakinan tersebut.
Dalam dunia kemahasiswaan, cukup beranikah kita berteriak,
mengkritik segala hal yang tidak mapan? Jeruji-jeruji ancaman ketidaklulusan
sering kali mematikan keberanian kita. Seringkali, kita memilih untuk bersikap
sebagai bunglon, untuk cari selamat.
Kita sering kali terlalu cepat memvonis diri bahwa kita tidak
mampu. Padahal sebenarnya kita dapat mengatasi perasaan ketidakmampuan itu.
Sering kali kita merasa sebagai seorang yang diombang-ambingkan kebingungan
padahal sesungguhnya sanggup berdiri tegak, seorang yang merasa bahwa ia hanya
buih yang terhanyut padahal sebagai manusia ia adalah pengendali gelombang,
seorang yang malas dan pengecut.
Padahal sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang paling tinggi, ia mampu
mengendalikan apa saja, apalagi sekadar gejala picisan dalam jiwa seperti
marah, takut, bingung, dsb.
*
SIKAP, adalah kata kuncinya. Bersikap sedikit nakal, tidaklah
selalu identik bahwa kita adalah okem-okem pasar yang bertindak semaunya. Orang-orang
besar macam Soekarno, Hitler, Mussolini, Benny Murdani, Rendra, saat kecil
bukanlah anak-anak yang manis dan penurut. Teroris-teroris besar kelas kakap
dunia, juga bukanlah berasal dari okem-okem pasar dan kampung yang tidak punya
latar belakang kehidupan yang jelas. Carlos anak milyuner dari Venezuela.
Netchayev adalah seorang mahasiswa di saat di Rusia baru ada 1000 mahasiswa.
Juga Bakunin dan Ulianinov, kakak Lenin. George Habash dan Widi Hadad adalah
dokter yang pernah buka klinik sendiri. Tanpa hidup nyleneh sebagai teroris,
mereka pasti bisa hidup mapan, tentram dan damai. Tapi mereka punya pilihan
lain. Mereka punya sikap lain yang sangat mereka yakini kebenarannya. Dan
mereka pun bisa menjadi orang besar, karena konsisten dengan sikapnya.
Bagaimana dengan kita sendiri.
Haruskah kita bangga dengan predikat kita sebagai mahasiswa ?
Ya, kita harus bangga. Tapi bukan karena kita menjadi mahasiswa.
Kita boleh bangga, kalau kita punya sikap. Urusan belakangan kalau ternyata
sikap kita itu sebanarnya salah. Saat kita bersikap, di sanalah tampak
kedewasaan kita, kebesaran kita. Dan saat itulah barulah kita boleh bangga,
bahwa kita adalah mahasiswa. Kebanggaan inilah yang harus kita cari, harus kita
buat sendiri. Jangan lagi karena kebetulan status kita adalah mahasiswa.
Be your self with your own mind!
Malang, 06.08.05, abis “nyalain kompor” di
HMS
Buat Kahim, sory kalo nyala kompornya kegedean
Referensi :
Valens Riyadi, Dunia Kemahasiswaan, Sebuah Fanatisme Romantis (milis
C96)
Andrias Harefa, Soe Hok Gie: Prototipe Manusia Guru
Soe Hok Gie, Catatan Harian Seorang Demonstran
Ahmad Wahib, Pergolakan Pemikiran Islam
Posted at 5.3.07 by acang
Permalink
Ana sahabatku, setelah sekian lama om Ivan Illich menelurkan ide
nylenehnya tentang "buat apa sekolah", mungkin baru sekarang, di
negeri ini, telur om Ivan ini menetas. Belum tuntas riuh rendah tingginya angka
ketidaklulusan UAN, datang lagi gemuruh Penerimaan Siswa Baru. Barangkali om
Ivan perlu lah datang ke negeri ini, sekedar berterima kasih karena mungkin
baru di negeri ini hipotesis dia menemukan bentuk nyata. Pak De SBY beberapa saat lalu juga bagi-bagi sms akan bahayanya
Narkoba dan zat aditif lainnya. Mungkin yang perlu dipertegas dan diperdebatkan
adalah apa saja sih yang masuk dalam zat aditif ini. Kalau saja om Ivan
sekarang ada di sini, Ana, mungkin saja ia akan menambahkan lagi dalam golongan
zat aditif ini sebuah barang baru, SEKOLAH namanya. Sudah saatnya disadarkan
pula kalo yang namanya sekolah ini juga bisa bikin nyandu, ketagihan, yang
sakauwnya bisa lebih bahaya dari narkoba. Eh, bukan cuma sakauw-nya lho,
harganya juga bersaing dengan paket SS dan ganja di luaran sana.
Engkau mau bukti, Ana ? Ah, gak perlu yah, kan sekarang bukan
jamannya lagi ngasih bukti. Lagian, apa engkau sudah sedemikian gak percayanya
sama aku ? Apakah kepercayaan juga semakin langka adanya, setelah BBM dan hutan
kita juga langka ? .... Engkau masih maksa juga minta bukti ? Ah, Ana ... kalo
engkau memaksa juga, aku maklum. Bukankah maksa sekarang ini lagi ngetrend ?
Pilkada, tuntutan kenaikan gaji, tuntutan kenaikan tunjangan, demo sana demo
sini, bukankah maksa juga namanya ?
Oke lah Ana, kalo engkau mau bukti, aku ajak engkau jalan-jalan
(semakin lama diem disini, makin sakauw aku). Kita akan kemana ? Ya tentu saja
keliling sekolah-sekolah itu, tapi bukan untuk sidak dana kompensasi BBM yang
dikasih label Biaya Operasional Sekolah itu, kan kita bukan siapa-siapa,
apalagi wakil rakyat. Rakyat masih cukup waras untuk tidak memilih kita menjadi
wakilnya. Kita keliling untuk ngeliat gegap gempitanya Penerimaan Siswa Baru.
Eits, tapi jangan lupa bawa uang receh yah. Ntar pasti kepake .....
Tuh, ada sekolah di sebelah sana. Liat aja antriannya .... Gak perlu engkau
ikut antri, Ana. Mendekatlah ke spanduk penerimaan siswa baru itu aja.
Kemudian, ambil duit receh tadi dan gosok spanduk itu, kayak engkau biasa
menggosok voucher isi ulang pulsa HP itu lho. Kalo udah, kita keliling lagi.
Bagaimana Ana ? Jangan pasang muka kaget begitu dong. Di negeri ini sudah
hampir semuanya tidak masuk akal, jadi apa yang engkau lihat dan saksikan, gak
usah dimasukin akal, eman-eman akalmu. Coba sekarang engkau bacain tulisan di
spanduk setelah engkau gosok pake duit receh tadi.
.PENGUMUMAN.
USAHAKAN JANGAN SAMPAI ANAK-ANAK MISKIN MASUK SEKOLAH, KARENA KEMISKINAN TIDAK
ADA KAITANNYA DENGAN SEKOLAH, DAN ANAK-ANAK MISKIN BUKAN KONSUMEN YANG
SIGNIFIKAN BAGI SEKOLAH.
BAPAK IBU MELARAT, JANGAN KIRIM ANAK-ANAKMU PERGI KULIAH, KARENA
KALIAN BUKAN KONSUMEN PRIVATISASI UNIVERSITAS.
MASYARAKAT FAKIR PAPA POSISINYA TIDAK RELEVAN DENGAN DUNIA
PENDIDIKAN
SEKOLAH BUKAN RUMAH SOSIAL DAN UNIVERSITAS BUKAN TONG SAMPAH
SEKOLAH ADALAH MALL-MALL DAN UNIVERSITAS ADALAH SUPERMARKET
(Emha Ainun Nadjib, Kesaksian Orang Biasa, 15 Oktober 2004)
Bukan apa-apa Ana, ini kan juga demi kebaikan orang-orang miskin
juga. Sekali mereka merasakan sekolah, mereka akan kecanduan hebat dan semakin
susah melepaskan diri dari sekolah. Baru ngerasain taman bermain, minta tambah
lagi dengan TK, minta lagi nyicipin SD, terus SMP, SMA dan buntut-buntutnya
jadi kuli ah. Inipun juga masih blom selesai lho. Abis SMA, ada S1, S2 dan
lain-lain. Sayang es campur adanya cuma di tempat makan, gak di dunia
pendidikan.
Dan harga semua itu gak bakalan bisa dijangkau oleh mereka itu lho
Ana, bahkan untuk bermimpi tentang harga itu, aku yakin mereka fakir papa juga
ketakutan setengah mati. Bukankah gelar akademis juga komoditas perdagangan
yang menggiurkan labanya ? Bukankah banyak yang rela membayar berapapun juga
demi toga dan secarik kertas di etalase plaza dan mall-mall itu Ana ? Ah, gak
usah ditanggepin Ana, aku aja yang terlalu skeptis. Maklum sih, aku juga
sedikit nyandu sekolah .....
Dan sakauw akibat kecanduan sekolah ini gak maen-maen lho. Sudah
jatuh korban di negeri ini. Di tengah belitan busung lapar, flu burung, polio,
lumpuh layu, sejarah juga menyempatkan diri mencatat nama-nama korban
sakauw-nya sekolah. Sebutlah misalnya Eko Haryanto, seorang siswa SD di Tegal
yang gantung diri. Ada lagi Bunyamin, seorang siswa SMK. Haryanto seorang siswa
SD di Garut. Sembodo di Kebumen dan yang terakhir seorang gadis bernama Fifi
Kusrini, seorang siswa SMP. Bukankah ini juga kado yang manis buat pemerintah
di saat ada acara Hari Anak Nasional kemarin yah ?
Kenapa Ana ? Engkau bilang sekolah itu juga anjuran agama ?
Baiklah Ana sahabatku, soal ini aku ajak engkau membuka buku
harian milik seorang sahabat, Soe Hok Gie namanya. Kita lihat saat ia berdebat
dengan pendetanya. Suatu saat pendetanya ini mengemukakan ide untuk membuat
sebuah sekolah unggulan dengan harga yang diatas rata-rata pada saat itu. Jelas
saja Gie mendebatnya dan mengatakan bahwa dengan ini akan menciptakan stigma
bahwa akan ada sekolah untuk orang kaya dan orang miskin.
Setelah si pendeta ini tidak menemukan argumen lagi, ia mengatakan
bahwa Gie anti agama. Dan kau tahu apa yang dikatakan Gie, Ana ? Gie cuma
berkata bahwa kalo usahanya memperjuangkan hak yang sama bagi setiap orang
untuk mendapatkan pendidikan harus membuatnya disebut anti agama, maka aku
(Gie) memang anti agama.
( Banyuwangi - Bondowoso - Malang ; lagi-lagi nggerundel )
Posted at 5.3.07 by acang
Permalink
kemarin ada temenku nulis cerita tentang mbah penjual mie instant
di depan kampus, yang menyediakan waktu istirahatnya diganggu orkestra
keroncongan perut mahasiswa yang kelaparan selepas tengah malam.
"mbah mie" dia menyebutnya
tinggal tunjuk mau merk mie yang mana, then ... sim salabim,
jadilah semangkuk mie panas yang bisa meredakan orkestra keroncongan tadi.
instant ... langsung jadi ...
mie instant, kopi instant, teh instant, rakyat instant, mahasiswa
instant, dosen instant, dekan instant, rektor instant, hingga presiden instant.
seperti halnya etalase kaca tempat memajang mie instant berbagai
merk ... ada juga sebuah tempat yang tidak kalah menterengnya. desain interior
dan eksteriornya dibuat sedemikian rupa untuk menarik perhatian. namanya PTN.
Eits, anda jangan suuddhan dulu menyangka PTN adalah Perguruan Tinggi Negeri.
PTN disini adalah Plaza Tinggi Negeri. Dalam etalase beningnya -seperti mie
instant- dipajang berbagai produk instant berbagai merk dari SH sampai ST, dari
SE sampai SP, berjajar bersama-sama STMJ dan SPG. tentunya dengan berbagai
variasi harga dong, tergantung fasilitas yang ditawarkannya. kalau mau yang
pake telor, beda dong sama yang pake bakso. semuanya sih tergantung selera dan
kesepakatan.
jadi, siapa yang tidak memiliki kemampuan membuat kesepakatan,
disarankan jangan dekat-dekat PTN, sebab aromanya bisa membuat orkestra
keroncongan berbunyi lebih nyaring, disusul oleh yang namanya ngiler, kemudian
tidak mampu menahan diri, lalu demo. demo masak maksudnya. nah, demo ini sangat
tidak menunjang bagi keberadaan sebuah Plaza. demo bisa membuat nilai jual PTN
tadi turun. jadi, segala kemungkinan dan peluang yang bisa membuat terjadinya
demo harus diantisipasi sejak dini. inget lho, gak ada yang melarang demo, apalagi
Indonesia kan negara demokrasi, yang sedikit-sedikit demonstrasi, lalu demolagi
demolagi, sampai akhirnya aborsi.
kok jadi ke aborsi ? lha wong tadi ngomong soal instant ...
jadi, jangan heran kalo banyak orang-orang instant bertebaran di
jalan-jalan, di mal-mal, di kampung-kampung, dan perkantoran. berhenti di
halte, ada minuman instant untuk meredakan haus. berhenti di terminal, ada mie
instant. terjebak dalam jaring birokrasi, jangan khawatir, banyak produk
instant yang ditawarkan. bahkan setiap 5 tahun, banyak calon-calon pemimpin
instant untuk menjadi presiden dan wakil rakyat instant.
kalo kopi instant, gak perlu repot-repot nyari bubuk kopi dan
menakarnya dengan takaran yang sesuai. tinggal terima jadi, dan syaratnya anda
harus percaya kepada pabrik yang bikin kopi instant tadi bahwa takaran kopi dan
gulanya sudah benar-benar yang paling pas buat anda. jadi, anda gak boleh pake
otak anda untuk berfikir mengenai takaran dan dosisnya. pokoknya, anda harus
percaya. kalo misalnya nanti setelah kopi habis, perut anda mules, itu urusan
dokter dan rumah sakit instant untuk menanganinya.
kalo presiden instant atau wakil rakyat, gak perlu repot-repot
anda mempertanyakan kapabilitas dan kredibilitasnya. anda cukup percaya saja
dengan suara yang keluar dari speaker selama masa kampanye, atau anda percaya
saja pada stiker-stiker yang nempel di tiang listrik, kaca bis, dan papan
pengumuman. yang penting, anda gak boleh pake otak dan pake hati untuk
memberikan penilaian terhadap kapabilitas dan kredibilitasnya. bukan apa-apa,
ini demi kebaikan anda sendiri. sebab, kalo sampe otak dan hati anda anda pake
untuk itu, jangan kaget dan terkencing-kencing kalo akhirnya anda terdampar di
sebuah pulau bernama rumah sakit jiwa.
nah, masih ada sebuah produk instant yang cukup elit. ada ulama
atau kiai instant. anda cukup percaya saja pada logatnya, pada pakaiannya, pada
surbannya, ditambah ayat suci dan beberapa hadits, syukur-syukur bisa ndukun
sedikit. gampang kan ?? anda gak perlu nginthil dia selama 24 jam untuk
melihat sejauh mana akhlaqnya pada masyarakat, sejauh mana manfaat
keberadaannya, atau kesediannya melekan menemani umatnya yang kebetulan
sakit misalnya. bukan apa-apa, kalo anda lakukan demikian, anda sendiri yang
bakalan repot.
memang bener-bener asik hidup di sebuah Republik Instant. sambil leyeh-leyeh
merem melek, kita bisa lihat artis instant yang ngebor njengking sampai
pejabat instant yang sedang ngobral dagangannya. tentunya sambil ditemani mie
instant dan kopi instant, boleh sambil nyanyi lagu yang dinyanyikan Cak Nun
selama di Korea yang berjudul “Asek” .... Asek..untum mawar meraaaahhh .....
oooo ...
coba, mana ada republik yang lebih asik ???
Posted at 5.3.07 by acang
Permalink
4.3.07
Setelah BBM naik, aku sempat ketemu ma seorang nelayan di Sendang
Biru yang mengeluh akan naiknya harga solar. Setengah bercanda, dia bilang kalo
pada sebelum BBM naik, dia biasa lapar sekali sehari, sekarang malah jadi tiga
kali sehari ...
Lapar? kayaknya itu pulalah yang membawaku pagi ini masuk ke
sebuah warung ... makan, man !
Karena masih rame, aku akhirnya antri. Dan untuk membunuh rasa
bosan menunggu, iseng2 aku baca koran yang disedian pemilik warung. Beritanya
searagam di halaman muka, demo atas kenaikan harga BBM, juga tingkah polah
playgroup yang namanya DPR. Ah, tampaknya memang benar setiap orang memiliki
sifat kekanak-kanakan (childish side) dalam dirinya.
Lembar demi lembar terus aku buka seiring orang demi orang yang
sedang antri ....
Dan ada sebuah berita yang cukup mengejutkan, paling tidak di
tengah isu kenaikan harga BBM ini.
" Indonesia berhasil mencapai rekor penjualan mobil "
..... wah, apa gak hebat tuh .... Indonesia memang negeri yang hebat, juga
negeri dongeng, karena bagitu banyaknya hal-hal yang tak bisa dimasukin akal
dan berhasil membuat para pengamat dari negeri A sampai Z kebingungan.
Indonesia juga sebuah negeri penuh romantisme yang begitu pemaafnya sehingga
banyak kasus-kasus besar selesai begitu saja. Sumpah deh, gak ada literatur
yang bisa ngejelasin fenomena ajaib ini.
Kembali saja ah ke kenyataan. "Indonesia berhasil mencapai
rekor penjualan mobil dalam tahun penjualan 2003-2004". Bayangkan ! ....
Bayangkan saja , dan gak usah repot-repot mikirin menganalisanya, sudah
ada bagiannya sendiri-sendiri. Konon, kata yang empunya cerita, rekor ini bukan
dalam hal jumlah (karena China lebih banyak dalam hal jumlah, maklum saja,
jumlah penduduknya juga buanyak sekuali), tapi rekor yang dicapai
Indonesia adalah dalam hal prosentase penjualan. Sudah selayaknya kita
kasih penghargaan pada pelaku ekonomi dan dunia otomotif kita. SALUT !
Lah, lalu apa hubungannya kenaikan harga BBM, lapar, dan rekor
penjualan mobil ??
kayaknya memang gak ada hubungannya sih, masa orang lapar mau makan
mobil dan minum bensin ?? gak mungkin ah ..... biarain aja deh menguap, apalagi
bensin kan emang mudah sekali menguap ...
anggap
saja ini ceracau, gremengan, atau gerundelan orang lapar yang gak
sanggup beli mobil. jangankan mobil, beli bensin aja gak sanggup .... (masa
sepeda onthel mau di-bensin-in ?)
rewrite : 04 maret 07
Posted at 4.3.07 by acang
Permalink
|
|
 |
 |
 |
 |
 |
 |
 |
 |
|
 |
|
 |